JAKARTA – Tren pelemahan nilai tukar rupiah yang terus berlanjut mendorong para investor domestik untuk mulai melirik aset valuta asing (valas) sebagai instrumen lindung nilai atau *hedging* guna menjaga kekayaan mereka.
Berdasarkan data Bloomberg per Rabu (27/5/2026), rupiah di pasar spot melemah 0,03% ke level Rp17.801 per dolar AS. Secara tahun berjalan (*year-to-date*), mata uang Garuda telah terdepresiasi sekitar 6,8%. Tekanan ini juga terjadi terhadap berbagai mata uang dunia lainnya, termasuk yuan China yang melemah hingga 10,07%, ringgit Malaysia 9,25%, serta dolar Singapura sebesar 7,52%.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan bahwa dolar AS masih menjadi pilihan utama masyarakat Indonesia dalam melakukan diversifikasi investasi valas. Hal ini tecermin dari data Bank Indonesia yang mencatat simpanan valas perbankan per Maret 2026 melonjak 8,6% menjadi Rp2.338,6 triliun.
“Sekitar 24% dana masyarakat sudah dipindahkan ke valas, dengan dominasi penempatan pada dolar AS karena dianggap paling kuat,” jelas Ibrahim.
Menurut Ibrahim, sentimen utama yang menekan rupiah saat ini masih dipengaruhi oleh ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah. Ia memproyeksikan jika kurs dolar AS berhasil menembus level Rp18.000, tidak tertutup kemungkinan mata uang tersebut akan terus menguat menuju angka Rp20.000.
Selain dolar AS, Ibrahim menilai dolar Singapura (SGD) layak dipertimbangkan sebagai alternatif investasi karena fundamental ekonomi negara tersebut yang kuat. Sementara itu, yen Jepang (JPY) mulai banyak dilirik investor karena harganya yang dianggap lebih terjangkau untuk kebutuhan diversifikasi.
Sebaliknya, ia memberikan catatan khusus terhadap yuan China (CNY). Ibrahim memprediksi pelemahan yuan berpotensi berlanjut akibat ketidakpastian perdagangan global serta risiko gangguan distribusi energi.
Bagi masyarakat yang berminat melakukan investasi valas, Ibrahim mengingatkan agar tidak terburu-buru melakukan akumulasi di tengah level kurs yang sudah tinggi. Menurutnya, posisi USD/IDR saat ini memiliki risiko koreksi jangka pendek.
“Investasi valas sebaiknya dilakukan secara bertahap dan berorientasi jangka panjang. Momentum masuk yang lebih ideal dapat dipertimbangkan jika kurs USD/IDR kembali turun ke kisaran Rp17.500,” imbaunya.
Sebagai proyeksi semester I 2026, Ibrahim memperkirakan pasangan USD/IDR akan bergerak menuju level 18.300. Sementara itu, SGD/IDR diprediksi mencapai 14.500, JPY/IDR ke level 150,50, dan CNY/IDR berpotensi menyentuh angka 2.850.







