Tutup
Regulasi

Rupiah Melemah, Dolar AS Jadi Pilihan Utama Investasi Valas Saat Ini

84
×

Rupiah Melemah, Dolar AS Jadi Pilihan Utama Investasi Valas Saat Ini

Sebarkan artikel ini

JAKARTA – Tren pelemahan nilai tukar rupiah yang terus berlanjut mendorong para investor domestik untuk mulai melirik aset valuta asing (valas) sebagai instrumen lindung nilai atau *hedging* guna menjaga kekayaan mereka.

Berdasarkan data Bloomberg per Rabu (27/5/2026), rupiah di pasar spot melemah 0,03% ke level Rp17.801 per dolar AS. Secara tahun berjalan (*year-to-date*), mata uang Garuda telah terdepresiasi sekitar 6,8%. Tekanan ini juga terjadi terhadap berbagai mata uang dunia lainnya, termasuk yuan China yang melemah hingga 10,07%, ringgit Malaysia 9,25%, serta dolar Singapura sebesar 7,52%.

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan bahwa dolar AS masih menjadi pilihan utama masyarakat Indonesia dalam melakukan diversifikasi investasi valas. Hal ini tecermin dari data Bank Indonesia yang mencatat simpanan valas perbankan per Maret 2026 melonjak 8,6% menjadi Rp2.338,6 triliun.

“Sekitar 24% dana masyarakat sudah dipindahkan ke valas, dengan dominasi penempatan pada dolar AS karena dianggap paling kuat,” jelas Ibrahim.

Menurut Ibrahim, sentimen utama yang menekan rupiah saat ini masih dipengaruhi oleh ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah. Ia memproyeksikan jika kurs dolar AS berhasil menembus level Rp18.000, tidak tertutup kemungkinan mata uang tersebut akan terus menguat menuju angka Rp20.000.

Selain dolar AS, Ibrahim menilai dolar Singapura (SGD) layak dipertimbangkan sebagai alternatif investasi karena fundamental ekonomi negara tersebut yang kuat. Sementara itu, yen Jepang (JPY) mulai banyak dilirik investor karena harganya yang dianggap lebih terjangkau untuk kebutuhan diversifikasi.

Sebaliknya, ia memberikan catatan khusus terhadap yuan China (CNY). Ibrahim memprediksi pelemahan yuan berpotensi berlanjut akibat ketidakpastian perdagangan global serta risiko gangguan distribusi energi.

Bagi masyarakat yang berminat melakukan investasi valas, Ibrahim mengingatkan agar tidak terburu-buru melakukan akumulasi di tengah level kurs yang sudah tinggi. Menurutnya, posisi USD/IDR saat ini memiliki risiko koreksi jangka pendek.

“Investasi valas sebaiknya dilakukan secara bertahap dan berorientasi jangka panjang. Momentum masuk yang lebih ideal dapat dipertimbangkan jika kurs USD/IDR kembali turun ke kisaran Rp17.500,” imbaunya.

Sebagai proyeksi semester I 2026, Ibrahim memperkirakan pasangan USD/IDR akan bergerak menuju level 18.300. Sementara itu, SGD/IDR diprediksi mencapai 14.500, JPY/IDR ke level 150,50, dan CNY/IDR berpotensi menyentuh angka 2.850.

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com – JAKARTA. Pelemahan rupiah yang berlanjut dalam beberapa waktu terakhir mendorong investor domestik mulai melirik aset valuta asing (valas) sebagai instrumen lindung nilai atau hedging. Di tengah tekanan global yang masih kuat, strategi diversifikasi ke mata uang asing dinilai semakin relevan untuk menjaga nilai aset. Tekanan terhadap rupiah terutama dipicu oleh penguatan dolar Amerika Serikat (AS), ketidakpastian ekonomi global,…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Nilai tukar rupiah masih berada dalam tekanan terhadap mayoritas mata uang global dan kawasan Asia sepanjang tahun berjalan. Kondisi ini mendorong meningkatnya minat investor domestik untuk mencari alternatif aset dalam bentuk mata uang asing sebagai strategi lindung nilai (hedging) terhadap pelemahan rupiah. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot tercatat melemah 0,03% secara harian ke level Rp 17.801 per dolar…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street dibuka menguat pada perdagangan Rabu (27/5/2026), didorong oleh berlanjutnya momentum positif dari sektor kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) serta meningkatnya optimisme investor terhadap potensi kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran. Penguatan ini mencerminkan sentimen pasar yang masih relatif stabil di tengah berbagai ketidakpastian geopolitik global,…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Bursa saham Amerika Serikat (AS) bergerak terbatas pada perdagangan Rabu (27/5/2026), di tengah sikap hati-hati investor yang menantikan perkembangan negosiasi geopolitik di Timur Tengah serta arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed). Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh laporan bahwa Iran melalui televisi pemerintahnya menyatakan telah memperoleh rancangan kerangka kesepakatan dengan Amerika Serikat. Kesepakatan…