Regulasi

Rupiah Melemah, Investor Beralih ke Dolar AS dan Franc Swiss

165
×

Rupiah Melemah, Investor Beralih ke Dolar AS dan Franc Swiss

Sebarkan artikel ini

JAKARTA – Tren pelemahan nilai tukar rupiah yang terus berlanjut membuat investor domestik beralih ke aset valuta asing (valas) sebagai instrumen lindung nilai atau *hedging*. Langkah ini diambil guna menjaga stabilitas nilai aset di tengah ketidakpastian ekonomi global dan penguatan dolar Amerika Serikat (AS).

Berdasarkan data Bloomberg per Rabu (27/5/2026), rupiah di pasar spot terdepresiasi 0,03% ke level Rp17.801 per dolar AS. Secara tahun berjalan (*year to date*), mata uang Garuda telah melemah sekitar 6,8%. Tekanan serupa juga terjadi terhadap mata uang utama dunia lainnya, seperti dolar Selandia Baru, franc Swiss, hingga dolar Singapura.

Di kawasan Asia, posisi rupiah tertekan cukup dalam terhadap yuan China dengan pelemahan mencapai 10,07% *year to date*. Ringgit Malaysia, dolar Singapura, yen Jepang, dan peso Filipina juga mencatatkan penguatan di atas rupiah.

Analis PT Finex Bisnis Solusi Future, Brahmantya Himawan, menyatakan bahwa dolar AS masih menjadi pilihan utama bagi investor untuk melakukan lindung nilai. Dominasi dolar AS didukung oleh posisinya sebagai mata uang utama dalam perdagangan energi global serta arus modal keluar yang masih membayangi pasar negara berkembang (*emerging market*).

Selain dolar AS, investor juga melirik franc Swiss dan yen Jepang sebagai aset *safe haven*. Franc Swiss dianggap memiliki stabilitas yang lebih terjaga, sementara yen Jepang dipengaruhi oleh kebijakan moneter Bank of Japan. Dolar Singapura juga menjadi pilihan defensif karena kuatnya fundamental ekonomi negara tersebut, berbeda dengan euro yang dinilai kurang menarik akibat perlambatan ekonomi di Eropa.

Prospek nilai tukar USD/IDR diprediksi masih berpotensi menguat dalam beberapa bulan ke depan. Hal ini dipicu oleh tren harga minyak dunia yang tinggi serta belum adanya kepastian kebijakan penurunan suku bunga dari bank sentral AS, The Federal Reserve.

“Saat risiko geopolitik meningkat dan distribusi energi terganggu, permintaan terhadap dolar AS cenderung naik karena statusnya sebagai petrodolar,” jelas analis tersebut.

Meski demikian, para investor diimbau untuk tidak melakukan pembelian besar-besaran secara sekaligus (*all-in*). Strategi akumulasi valas secara bertahap dinilai lebih aman untuk memitigasi risiko jika sewaktu-waktu terjadi perubahan sentimen global, seperti meredanya tensi geopolitik atau perubahan arah kebijakan suku bunga.

Hingga semester I 2026, nilai tukar USD/IDR diproyeksikan akan bergerak di kisaran Rp18.000 hingga Rp18.500. Brahmantya menegaskan bahwa dalam kondisi saat ini, prioritas utama dari strategi lindung nilai adalah menjaga daya beli serta stabilitas portofolio aset, bukan sekadar mengejar keuntungan semata.

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Tekanan di pasar keuangan domestik masih membayangi kinerja industri reksadana. Di tengah pelemahan pasar saham dan meningkatnya volatilitas nilai tukar rupiah, manajer investasi memilih memperkuat kualitas portofolio melalui seleksi emiten berbasis fundamental guna menjaga kinerja reksadana saham hingga kuartal III 2026. Baca Juga: Rupiah Masih Rentan, Berisiko Tembus Rp 19.000 per Dolar AS di Akhir Juni 2026 Berdasarkan…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Pasar keuangan domestik saat ini masih menghadapi tekanan yang cukup besar. Di pasar saham, misalnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah merosot sekitar 35,3% sejak awal tahun 2026 ke level 5.594,76. Tekanan juga terjadi di pasar keuangan secara lebih luas seiring pelemahan nilai tukar rupiah yang kini berada di kisaran Rp 18.000 per dolar AS. Dalam situasi yang penuh tantangan seperti saat ini, investor tampaknya…