JAKARTA – Tren pelemahan nilai tukar rupiah yang terus berlanjut membuat investor domestik beralih ke aset valuta asing (valas) sebagai instrumen lindung nilai atau *hedging*. Langkah ini diambil guna menjaga stabilitas nilai aset di tengah ketidakpastian ekonomi global dan penguatan dolar Amerika Serikat (AS).
Berdasarkan data Bloomberg per Rabu (27/5/2026), rupiah di pasar spot terdepresiasi 0,03% ke level Rp17.801 per dolar AS. Secara tahun berjalan (*year to date*), mata uang Garuda telah melemah sekitar 6,8%. Tekanan serupa juga terjadi terhadap mata uang utama dunia lainnya, seperti dolar Selandia Baru, franc Swiss, hingga dolar Singapura.
Di kawasan Asia, posisi rupiah tertekan cukup dalam terhadap yuan China dengan pelemahan mencapai 10,07% *year to date*. Ringgit Malaysia, dolar Singapura, yen Jepang, dan peso Filipina juga mencatatkan penguatan di atas rupiah.
Analis PT Finex Bisnis Solusi Future, Brahmantya Himawan, menyatakan bahwa dolar AS masih menjadi pilihan utama bagi investor untuk melakukan lindung nilai. Dominasi dolar AS didukung oleh posisinya sebagai mata uang utama dalam perdagangan energi global serta arus modal keluar yang masih membayangi pasar negara berkembang (*emerging market*).
Selain dolar AS, investor juga melirik franc Swiss dan yen Jepang sebagai aset *safe haven*. Franc Swiss dianggap memiliki stabilitas yang lebih terjaga, sementara yen Jepang dipengaruhi oleh kebijakan moneter Bank of Japan. Dolar Singapura juga menjadi pilihan defensif karena kuatnya fundamental ekonomi negara tersebut, berbeda dengan euro yang dinilai kurang menarik akibat perlambatan ekonomi di Eropa.
Prospek nilai tukar USD/IDR diprediksi masih berpotensi menguat dalam beberapa bulan ke depan. Hal ini dipicu oleh tren harga minyak dunia yang tinggi serta belum adanya kepastian kebijakan penurunan suku bunga dari bank sentral AS, The Federal Reserve.
“Saat risiko geopolitik meningkat dan distribusi energi terganggu, permintaan terhadap dolar AS cenderung naik karena statusnya sebagai petrodolar,” jelas analis tersebut.
Meski demikian, para investor diimbau untuk tidak melakukan pembelian besar-besaran secara sekaligus (*all-in*). Strategi akumulasi valas secara bertahap dinilai lebih aman untuk memitigasi risiko jika sewaktu-waktu terjadi perubahan sentimen global, seperti meredanya tensi geopolitik atau perubahan arah kebijakan suku bunga.
Hingga semester I 2026, nilai tukar USD/IDR diproyeksikan akan bergerak di kisaran Rp18.000 hingga Rp18.500. Brahmantya menegaskan bahwa dalam kondisi saat ini, prioritas utama dari strategi lindung nilai adalah menjaga daya beli serta stabilitas portofolio aset, bukan sekadar mengejar keuntungan semata.







