Tutup
News

Sumatera Barat Bangun Narasi Positif Pulihkan Sektor Pariwisata

68
×

Sumatera Barat Bangun Narasi Positif Pulihkan Sektor Pariwisata

Sebarkan artikel ini
terungkap,-tantangan-terbesar-pariwisata-sumbar-pascabencana-bukan-bencana-alam
Terungkap, Tantangan Terbesar Pariwisata Sumbar Pascabencana Bukan Bencana Alam

Padang – Sektor pariwisata Sumatera Barat kini tengah menghadapi tantangan berat pascabencana, bukan hanya soal infrastruktur yang rusak, melainkan terpaan stigma negatif publik. Isu ini menjadi sorotan dalam diskusi bertajuk Potensi Pariwisata Sumbar Pascabencana yang berlangsung di Kupi Batigo, Padang, Minggu (31/5/2026).

Kepala Dinas Pariwisata Sumbar, dr. Lila Yanwar, mengungkapkan bahwa anggapan daerah terdampak masih berbahaya seringkali bertahan lebih lama dibanding kenyataan di lapangan. Padahal, ia memastikan destinasi populer seperti Lembah Anai, Sitinjau Lauik, hingga kawasan Solok tetap beroperasi normal dan aman untuk dikunjungi wisatawan.

Lila pun mendorong penguatan narasi positif atau storytelling untuk memulihkan citra pariwisata daerah. Menurutnya, pemulihan tidak cukup hanya lewat perbaikan fisik, tetapi harus mengusung konsep build back better agar kualitas destinasi wisata menjadi jauh lebih baik dari sebelumnya.

Di sisi lain, Ketua TP2DEWI Sumbar, M. Zuhrizul, menyoroti ancaman yang ia sebut sebagai bencana peradaban. Ia menilai pudarnya adab masyarakat, seperti kebiasaan membuang sampah sembarangan di lokasi wisata, jauh lebih merusak citra daerah dibandingkan dampak bencana alam itu sendiri.

Zuhrizul mengajak seluruh pelaku industri pariwisata untuk berkomitmen menjaga etika, pelayanan, serta kelestarian lingkungan. Langkah ini, menurutnya, merupakan cerminan nyata dari nilai-nilai luhur budaya Minangkabau yang harus dijaga.

Terkait kesiapan wilayah, Direktur Eksekutif BPPD Sumbar, Yulviadi Adek, menekankan perlunya masyarakat terbiasa hidup berdampingan dengan potensi bencana. Ia menyarankan penguatan literasi kebencanaan berbasis kearifan lokal yang mulai ditanamkan kepada generasi muda sejak dini.

Senada dengan hal tersebut, pemerhati pariwisata dan ahli geologi, Ade Edward, mendorong penerapan konsep resilient tourism atau pariwisata tangguh. Ia menegaskan bahwa pembangunan destinasi masa depan wajib mengintegrasikan mitigasi bencana, tata ruang yang tepat, serta pelestarian ekosistem.

Seluruh narasumber dalam diskusi tersebut sepakat bahwa bangkitnya pariwisata Sumbar memerlukan kolaborasi komprehensif dari berbagai pihak. Strategi ini mencakup perbaikan narasi, penguatan literasi, dan pembangunan karakter masyarakat dalam mengelola destinasi wisata secara berkelanjutan.