Jakarta – PT Jasa Armada Indonesia Tbk (IPCM), emiten yang berada di bawah naungan Grup Pelindo, menyatakan kesiapan perusahaan dalam merespons kebijakan penyederhanaan serta restrukturisasi sektor strategis yang dicanangkan oleh Badan Pengelola (BP) BUMN.
Kebijakan ini menempatkan perusahaan perkapalan tersebut dalam posisi untuk meninjau kembali strategi bisnis guna memperkuat fundamental dan kinerja keuangan jangka panjang.
Direktur Utama IPCM, Shanti Puruhita, mengungkapkan bahwa saat ini perseroan tengah melakukan evaluasi intensif bersama para pemegang saham terkait potensi aksi korporasi, termasuk opsi merger atau konsolidasi di lingkungan Grup Pelindo.
Menurut Shanti, langkah strategis tersebut harus mampu memberikan nilai tambah yang konkret bagi perusahaan, baik melalui peningkatan efisiensi operasional, penguatan daya saing, maupun diversifikasi portofolio bisnis.
Prioritas utama dalam rencana aksi korporasi ini adalah penciptaan sinergi keuangan yang sehat.
Shanti menekankan bahwa setiap langkah yang diambil nantinya harus mampu menghasilkan struktur modal yang lebih solid, arus kas yang terjaga, serta fundamental perusahaan yang semakin kuat.
Sebagai perusahaan terbuka, IPCM berkomitmen untuk mematuhi seluruh regulasi mengenai keterbukaan informasi publik segera setelah keputusan akhir mengenai langkah restrukturisasi tersebut ditetapkan oleh pemegang saham.
Di sisi lain, IPCM juga tengah memitigasi risiko kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang berpotensi menekan margin laba.
Direktur IPCM, Arief Hermawan, menjelaskan bahwa BBM merupakan komponen biaya operasional terbesar dalam bisnis jasa pemanduan dan penundaan kapal.
Sebagai langkah antisipasi, perusahaan telah menerapkan manajemen konsumsi bahan bakar yang ketat melalui sistem digital dan optimalisasi pola operasional armada.
Langkah mitigasi yang dilakukan mencakup koordinasi yang lebih efisien antara tim perencana, pandu, dan awak kapal untuk mengurangi waktu tunggu kapal di pelabuhan.
Selain itu, IPCM gencar mengadopsi teknologi ramah lingkungan, termasuk penggunaan shore connection di berbagai pelabuhan dan pemasangan harbor generator pada lebih dari 20 kapal tunda.
Perseroan juga telah menerapkan teknologi baterai hibrida pada empat kapal pandu, dengan rencana penambahan pada dua unit kapal lainnya tahun ini guna menekan konsumsi BBM serta mendukung agenda dekarbonisasi.
Untuk mendukung pertumbuhan bisnis jangka panjang, IPCM telah mengalokasikan belanja modal (capital expenditure) sebesar Rp74 miliar untuk pengadaan armada baru tahun ini.
Penambahan armada ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas operasional serta memperkuat fleksibilitas layanan di berbagai wilayah.
Perseroan optimistis terhadap prospek pertumbuhan bisnis seiring dengan pengembangan sejumlah pelabuhan strategis di bawah Grup Pelindo, seperti New Priok Container Terminal (NPCT) 1 dan 2, Pelabuhan Kijing di Kalimantan Barat, serta Pelabuhan Patimban di Jawa Barat.
Peningkatan aktivitas logistik di terminal-terminal tersebut diproyeksikan akan mendongkrak permintaan jasa pemanduan dan penundaan kapal, yang menjadi inti dari pendapatan perseroan.
IPCM berkomitmen untuk terus menjaga standar pelayanan dan keselamatan operasional di tengah dinamika restrukturisasi dan tantangan biaya energi.







