Valuta

Rupiah Melemah Tertekan Konflik Timur Tengah dan Kebijakan The Fed

3
×

Rupiah Melemah Tertekan Konflik Timur Tengah dan Kebijakan The Fed

Sebarkan artikel ini
Grafik pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di layar monitor perdagangan valas.
Nilai tukar rupiah melemah ke level Rp17.963 per dolar AS akibat tekanan konflik global dan kebijakan The Fed.

JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan akhir pekan, Jumat (24/7/2026), akibat tekanan sentimen global dan domestik yang kian intensif. Kurs rupiah di pasar spot merosot 0,15% ke level Rp 17.963 per dolar AS.

Pelemahan ini memperpanjang tren negatif mata uang Garuda yang terkoreksi 0,23% dalam sepekan terakhir. Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia mencatat rupiah berada di posisi Rp 17.973 per dolar AS.

Eskalasi konflik bersenjata antara AS dan Iran menjadi faktor utama yang membebani mata uang domestik. Serangan militer yang saling berbalas di wilayah Timur Tengah memicu kekhawatiran gangguan pasokan minyak dunia melalui Selat Hormuz.

Lonjakan harga minyak mentah dunia akibat ketegangan tersebut berisiko memicu inflasi global yang persisten. Kondisi ini memaksa investor bersikap antisipatif terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) ke depan.

Pasar kini mencermati potensi kebijakan suku bunga tinggi yang akan dipertahankan bank sentral AS lebih lama. Skenario tersebut cenderung memperkuat posisi dolar AS sebagai aset safe haven di tengah ketidakpastian pasar.

Di sisi domestik, ekonomi nasional masih menghadapi tantangan pertumbuhan yang tertahan di bawah level 5%. Perlambatan investasi dan daya beli rumah tangga yang lesu turut membatasi ruang gerak penguatan nilai tukar.

Keputusan Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan dinilai belum memberikan dampak signifikan bagi stabilitas rupiah. Pelaku usaha pun cenderung menahan diri untuk melakukan ekspansi akibat tingginya biaya pendanaan.

Analis memproyeksikan rupiah akan bergerak fluktuatif dalam rentang Rp 17.880 hingga Rp 18.250 per dolar AS pada pekan mendatang. Sentimen kebijakan tarif AS serta data ekonomi makro akan menjadi penentu arah pergerakan selanjutnya.

Pelaku pasar saat ini tengah menanti rilis data produk domestik bruto (PDB) AS kuartal II dan indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (Core PCE Price Index). Data ketenagakerjaan AS juga akan menjadi acuan utama bagi arah kebijakan moneter The Fed.

Di tengah ketidakpastian pasar keuangan, aset investasi seperti emas mencatatkan kenaikan harga. Emas batangan Antam hari ini, Sabtu (25/7/2026), terpantau naik Rp 7.000 menjadi Rp 2.612.000 per gram.

Sementara itu, sektor pasar modal Indonesia juga menghadapi tantangan dengan adanya 59 emiten yang berpotensi terkena forced delisting oleh Bursa Efek Indonesia. Kondisi ini menambah daftar panjang dinamika yang harus dihadapi investor di tengah tekanan ekonomi global yang masih berlangsung.