JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali terperosok ke zona merah pada perdagangan Jumat (24/7/2026). Indeks ditutup terkoreksi 1,88% atau turun 118 poin ke level 6.196,43.
Pelemahan ini menandai tren negatif selama tiga hari berturut-turut di Bursa Efek Indonesia. Seluruh indeks sektoral kompak melemah, dengan sektor barang konsumer non-primer memimpin penurunan sebesar 3,04%.
Koreksi tajam di pasar domestik ini dipicu oleh sentimen negatif dari bursa Wall Street. Kejatuhan harga saham raksasa teknologi, seperti Alphabet dan Tesla, pasca-rilis laporan keuangan kuartal II memicu kekhawatiran global terhadap valuasi sektor kecerdasan buatan.
Selain sentimen teknologi, lonjakan harga minyak mentah dunia menjadi tekanan tambahan bagi pasar. Harga minyak Brent terpantau menembus level US$ 100,69 per barel, yang memperburuk kekhawatiran terkait inflasi global dan kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat, The Fed.
Tekanan tersebut turut berdampak pada nilai tukar rupiah yang menghadapi risiko pelemahan signifikan. Analis memperkirakan tekanan pada mata uang kawasan Asia akan terus berlanjut seiring dengan ketidakpastian harga energi dan kebijakan suku bunga global.
Di tengah kondisi pasar yang volatil, pelaku pasar disarankan untuk lebih selektif dalam menyusun portofolio. Fokus utama saat ini sebaiknya dialihkan pada emiten yang memiliki pelindung alami atau natural hedge serta visibilitas laba yang stabil.
Sektor energi dan komoditas dinilai memiliki potensi untuk diuntungkan oleh tren kenaikan harga minyak global. Beberapa saham yang direkomendasikan untuk dicermati meliputi PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA).
Untuk sektor perbankan, emiten dengan porsi Current Account Savings Account (CASA) yang tinggi tetap disarankan sebagai portofolio inti. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dinilai masih memiliki fundamental yang kuat untuk dipertahankan.
Sebaliknya, investor diminta untuk menghindari saham barang konsumer yang sensitif terhadap impor. Emiten pengimpor dianggap paling rentan terdampak oleh pelemahan nilai tukar rupiah dan lonjakan biaya energi.
Proyeksi pergerakan IHSG untuk pekan depan diperkirakan masih akan berlangsung volatil dengan kecenderungan bervariasi. Area support indeks diproyeksikan berada di kisaran 6.185 hingga 6.250.
Sementara itu, level resistance diperkirakan berada di rentang 6.350 hingga 6.470. Arah pasar ke depan akan sangat bergantung pada rilis laporan keuangan semester I bank-bank besar serta dinamika geopolitik di Selat Hormuz.
Meskipun terjadi koreksi, IHSG secara akumulatif masih mencatatkan penguatan sebesar 0,34% dalam sepekan terakhir. Target akhir tahun untuk indeks tetap dipatok pada rentang 6.000 hingga 6.500 dengan mempertimbangkan sentimen MSCI pada November mendatang.






