Tutup
NewsPendidikan

Wisuda Sentuh Luka: Kampus Reproduksi Trauma Lewat Nama Ayah

247
×

Wisuda Sentuh Luka: Kampus Reproduksi Trauma Lewat Nama Ayah

Sebarkan artikel ini
bahasa-tidak-pernah-netral:-kritik-atas-tradisi-“anak-dari-bapak”-di-wisuda
Bahasa Tidak Pernah Netral: Kritik atas Tradisi “Anak dari Bapak” di Wisuda

Jakarta – Momen wisuda yang seharusnya membahagiakan,justru menjadi trauma bagi sebagian mahasiswa. penyebabnya, tradisi penyebutan nama ayah yang justru membangkitkan luka lama.

Penyebutan nama ayah saat wisuda, alih-alih menjadi penghormatan, justru menjadi pengingat pahit bagi mereka yang memiliki pengalaman buruk dengan figur ayah.

Tradisi ini, yang dianggap formalitas oleh kampus, ternyata menyimpan makna mendalam bagi sebagian mahasiswa.

Unggahan viral di Instagram dari akun @Iiiffyaa._m menyuarakan pengalaman serupa. dalam video wisudanya,ia menulis kalimat menyayat hati tentang wisuda dengan keluarga yang berantakan.

“Kalian ga akan tau rasanya wisuda dengan keluarga berantakan itu lebih sakit, apalagi yg dipanggil pas wisuda nama ayah sedangkan yg berjuang hanya ibu,” tulisnya.Pernyataan ini mewakili ribuan suara mahasiswa lain yang selama ini terdiam. Mereka yang tumbuh tanpa figur ayah,atau memiliki pengalaman traumatis,merasa terpaksa mengulang luka lama.

Kampus sering menganggap penyebutan nama orang tua sebagai hal netral. Namun, dalam kajian linguistik, bahasa tidak pernah netral.Bahasa selalu membawa beban makna, ideologi, dan pengalaman.

Penyebutan nama orang tua dalam wisuda adalah tindakan institusional yang memberikan legitimasi, mengakui, menghapus, memusatkan, dan menyisihkan pihak-pihak tertentu.

Ketika kampus otomatis menyebut nama ayah, kampus mereproduksi asumsi bahwa ayah selalu hadir, layak, dan menjadi pusat identitas anak. Padahal, realitas hidup mahasiswa sangat beragam.

Ada mahasiswa yang tidak pernah bertemu ayahnya, ditinggalkan sejak lahir, tumbuh besar hanya bersama ibu, atau hidup dengan luka batin akibat kekerasan ayah.

Sistem pendidikan seolah berasumsi semua keluarga utuh dan harmonis. Padahal, banyak mahasiswa menolak namanya dipanggil bersama nama ayahnya karena berbagai alasan.

Penolakan ini sering dibenturkan dengan kalimat klise: “Tanpa bapak, anak tidak akan ada.” pernyataan ini terdengar biologis, tetapi egois secara moral. Anak tidak pernah meminta dilahirkan ke dunia dalam keadaan diabaikan.

Di sinilah bahasa institusi berubah menjadi kekerasan simbolik. Tanpa menyentuh tubuh,bahasa mampu melukai psikis. Mahasiswa dipaksa menelan ulang kepahitan saat nama yang menyimpan trauma dipanggil di ruang publik.

Ironisnya, seringkali ibu yang memikul seluruh beban kehidupan. Namun, pada hari wisuda, nama ibu seringkali tidak disebut. Yang hadir justru nama ayah, bahkan ketika ayah itu tidak pernah hadir dalam kehidupan anaknya.

Inilah wajah patriarki simbolik yang masih dipertahankan dalam ritual akademik. Patriarki yang bekerja halus melalui bahasa dan tradisi, dinormalisasi, diwariskan, dan jarang dipertanyakan.

Padahal, dunia pendidikan hari ini menggaungkan nilai inklusivitas, kesetaraan gender, dan kepedulian terhadap kesehatan mental. Kampus berbicara tentang mahasiswa sebagai subjek yang utuh, namun menghapus keutuhan itu dengan satu asumsi tunggal tentang keluarga.

Wisuda seharusnya menjadi ruang penghargaan atas kerja intelektual, ketekunan, dan daya tahan mahasiswa. Bukan arena pemaksaan narasi keluarga yang seragam.

Mengapa kampus tidak bertanya? Mengapa tidak memberi pilihan kepada mahasiswa, ingin disebut anak dari ayah, ibu, atau cukup namanya sendiri? Pilihan ini tidak mengurangi kehormatan wisuda, justru menunjukkan kedewasaan institusi dalam menghargai keberagaman jalan hidup.

Pilihan penamaan adalah bentuk pengakuan identitas. Memberi pilihan berarti mengakui bahwa mahasiswa adalah subjek dengan pengalaman hidup yang sah, bukan objek tradisi yang harus patuh tanpa suara.

Sudah saatnya kampus, sekolah, dinas Pendidikan, dan dikti memerhatikan praktik simbolik yang selama ini dianggap sepele. Bahasa yang digunakan institusi pendidikan harus berpihak pada kemanusiaan, bukan sekadar melestarikan tradisi.

Wisuda seharusnya meninggalkan rasa dihargai sepenuhnya: lahir dan batin wisudawan. Tindak tutur kampus semestinya tidak seragam, melainkan memberi pilihan kepada wisudawan.Bahkan, di sejumlah kampus di Malaysia, nama orang tua tidak disebut sama sekali; mahasiswa cukup dipanggil namanya. Sederhana, tetapi adil.

Jika pendidikan sungguh ingin memanusiakan manusia, sudah saatnya kampus meninggalkan sistem patriarki yang usang dan berhenti memaksakan satu narasi keluarga. Wisuda harus menjadi ruang kebanggaan yang utuh, bukan seremoni yang tanpa sadar mengulang luka.