Tutup
News

Gencatan Senjata Iran–Israel Bantu Stabilkan BBM dan Rupiah, Tapi Waspada Eskalasi

317
×

Gencatan Senjata Iran–Israel Bantu Stabilkan BBM dan Rupiah, Tapi Waspada Eskalasi

Sebarkan artikel ini
gencatan-senjata-iran–israel-bantu-stabilkan-bbm-dan-rupiah,-tapi-waspada-eskalasi
Gencatan Senjata Iran–Israel Bantu Stabilkan BBM dan Rupiah, Tapi Waspada Eskalasi

Jakarta – Gencatan senjata antara Iran dan israel membawa dampak positif bagi perekonomian Indonesia, namun pemerintah diminta tetap waspada. Ekonom dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Didin S Damanhuri, menilai kondisi ini memberikan dampak positif sementara, terutama dalam pengendalian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dan nilai tukar rupiah.

Didin mengingatkan agar pemerintah tetap waspada dan melakukan mitigasi terhadap potensi eskalasi konflik di kawasan tersebut. “untungnya, dengan tekanan dari presiden AS Donald Trump terhadap israel, dan karena Iran merasa permintaan gencatan senjata berasal dari AS, Iran akhirnya menyetujuinya. Maka untuk sementara, terjadi deeskalasi, meski mungkin hanya untuk waktu singkat,” ujar Didin, pada Sabtu (28/6/2025).

Didin menjelaskan, meredanya ketegangan ini berdampak pada penurunan harga minyak yang sebelumnya sempat melonjak hingga 90 dolar AS per barel. Hal ini disebabkan karena Iran tidak jadi menutup Selat Hormuz, serta adanya dorongan deeskalasi dari negara-negara besar seperti AS, Eropa, Rusia, dan China.

Lebih lanjut, Didin memaparkan dampak positif bagi Indonesia. “Dampaknya terhadap Indonesia,untuk sementara: harga BBM dan kurs rupiah terhadap dolar AS dapat dikendalikan dan masih sesuai dengan asumsi makro APBN. Inflasi masih dapat dijaga,pasar saham pulih,dan pertumbuhan ekonomi bisa mencapai lima persen atau lebih,” jelasnya.

Namun, Didin tetap mengingatkan bahwa potensi konflik masih sangat besar. Pemerintah perlu terus memitigasi kemungkinan terjadinya eskalasi kembali, seperti serangan Israel terhadap Gaza yang dapat memicu balasan dari Iran, termasuk kemungkinan penutupan Selat Hormuz.

“Risiko geopolitik dan geoekonomi akan mengalami ketidakpastian tinggi. Ancaman perang besar, bahkan Perang Dunia III atau perang nuklir, tidak bisa diabaikan,” imbuhnya pada Sabtu (28/6/2025).

Didin menegaskan, selain kebijakan ekonomi yang tepat, Pemerintah Indonesia juga harus berperan aktif dalam diplomasi global bersama negara-negara pecinta damai untuk mengupayakan perdamaian dunia.