Tutup
Regulasi

Nilai Ekspor Minyak Kelapa Indonesia Naik Meski Volume Pengiriman Turun

62
×

Nilai Ekspor Minyak Kelapa Indonesia Naik Meski Volume Pengiriman Turun

Sebarkan artikel ini

JAKARTA – Sektor ekspor minyak kelapa Indonesia menunjukkan ketangguhan yang solid di tengah tantangan pasokan global dan fluktuasi produksi. Berdasarkan laporan Indonesia Eximbank Institute, Indonesia sukses mempertahankan posisinya sebagai eksportir minyak kelapa terbesar kedua di dunia dengan pangsa pasar mencapai 22 persen pada 2025.

Kepala Indonesia Eximbank Institute, Rini Satriani, mengungkapkan bahwa meski volume pengiriman minyak kelapa sempat terkoreksi 18 persen sepanjang tahun 2025, nilai ekspor justru mencatatkan pertumbuhan signifikan hingga lebih dari 43 persen.

“Lonjakan nilai ekspor ini dipicu oleh kenaikan harga akibat terbatasnya pasokan bahan baku domestik, terutama karena dampak fenomena El Niño yang menyebabkan beberapa pabrik harus mengurangi kapasitas produksi,” ujar Rini melalui keterangan tertulis, Ahad, 31 Mei 2026.

Saat ini, Indonesia bersaing ketat dengan Filipina yang menguasai 49 persen pasar global, sementara Belanda berada di posisi ketiga dengan pangsa 10 persen. Keunggulan Indonesia terletak pada diversifikasi pasar yang luas, mencakup lebih dari 90 negara tujuan termasuk Belanda, Cina, Filipina, Malaysia, dan Amerika Serikat.

Besarnya permintaan global terhadap minyak kelapa, yang didorong oleh tren gaya hidup sehat serta kebutuhan industri pangan, kosmetik, dan kesehatan, memberikan peluang besar bagi produk Indonesia. Rini menilai penetrasi ke pasar yang mengutamakan keberlanjutan, seperti Uni Eropa, menjadi potensi yang harus dimaksimalkan.

Menatap tahun 2026, IEB Institute memproyeksikan nilai ekspor akan tumbuh moderat sebesar 9 persen. Proyeksi ini mempertimbangkan pemulihan produksi dari negara kompetitor serta normalisasi harga minyak kelapa di pasar internasional.

Meski prospeknya cerah, sektor ini masih menghadapi kendala besar, yaitu ancaman penurunan pasokan bahan baku akibat penuaan pohon kelapa, produktivitas petani kecil yang rendah, serta tingginya ekspor kelapa bulat mentah.

Sebagai solusi jangka panjang, Rini menekankan pentingnya program peremajaan kebun (replanting) dan penguatan hilirisasi industri. Pemerintah tercatat telah melakukan peremajaan lahan seluas 44,9 ribu hektar pada 2024 dan menargetkan perluasan program tersebut hingga ratusan ribu hektar pada periode 2026–2027.

Penguatan industri pengolahan bernilai tambah juga menjadi fokus utama pemerintah untuk menjaga daya saing. Dengan kebijakan yang tepat, Indonesia optimistis dapat terus memperkuat posisinya sebagai pemain kunci dalam rantai pasok minyak kelapa dunia.

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) akhirnya memutuskan jadwal Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB). Kali ini pihaknya menjadwalkan RUPSLB pada Selasa, 23 Juni 2026 pukul 14.00 WIB. Jadwal tersebut mundur dari rencana semula pada tanggal 11 Juni 2026. RUPSLB ini akan membahas rencana MDKA yang akan melaksanakan aksi korporasi berupa Penambahan Modal Tanpa Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD) IV…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com – JAKARTA. Nilai tukar rupiah masih berada dalam tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menjelang paruh kedua tahun 2026. Meski berbagai langkah stabilisasi telah ditempuh oleh Bank Indonesia (BI), sejumlah ekonom menilai penguatan rupiah secara berkelanjutan masih menghadapi tantangan besar dari faktor eksternal maupun domestik. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup melemah 0,20% secara harian ke level Rp…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. PT Vale Indonesia Tbk (INCO) memberikan tanggpan atas dampak rencana penerbitan Peraturan Pemerintah (PP) Tata Kelola Ekspor Sumber Daya Alam (SDA). Melalui beleid tersebut, aktivitas ekspor sejumlah komoditas SDA bakal melalui satu pintu. Sekretaris Perusahaan Vale Indonesia, Ranty Astari Rachman mengatakan, pihaknya memahami bahwa pemerintah berencana menerbitkan PP Tata Kelola Ekspor SDA untuk memperkuat tata kelola…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Saham bank berkapitalisasi besar alias big banks selama sepekan lalu masih menjadi saham yang paling banyak dijual asing. Aksi jual asing tersebut membuat pergerakan saham emiten big banks kompak ikut menurun. Diantara saham big banks yakni PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), saham yang turun paling tajam adalah saham…