Tutup
KarirNews

Gen Z Guncang Dunia Kerja, Ambisi Berubah, Prioritaskan Work-Life Balance

460
×

Gen Z Guncang Dunia Kerja, Ambisi Berubah, Prioritaskan Work-Life Balance

Sebarkan artikel ini
mengenal-career-minimalism,-cara-gen-z-menentukan-sukses-versi-mereka-sendiri
Mengenal Career Minimalism, Cara Gen Z Menentukan Sukses Versi Mereka Sendiri

Jakarta – Generasi Z (Gen Z) kini mengubah cara pandang terhadap dunia kerja. Mereka mengusung filosofi “career minimalism” yang mengutamakan keseimbangan hidup di atas loyalitas buta terhadap perusahaan.

Fenomena ini muncul sebagai respons terhadap pengalaman generasi sebelumnya yang dinilai terlalu mengorbankan diri demi karier, namun justru terjerat krisis ekonomi dan stres.

Lahir antara tahun 1997 dan 2012,Gen Z berani menolak budaya tersebut. Mereka berpendapat bahwa pekerjaan seharusnya menunjang kehidupan, bukan sebaliknya.

Data menunjukkan, 68% pekerja Gen Z tidak tertarik mengejar posisi manajerial kecuali ada kompensasi yang jelas, seperti gaji lebih tinggi atau jabatan bergengsi.

“Gen Z lebih fleksibel dibandingkan generasi sebelumnya. Mereka mencari jalur karier berkelanjutan yang sesuai dengan kebutuhan mereka saat ini,” ujar Career Pivot Strategist di Glassdoor, Janel Abrahami.

Hal ini bisa berarti menerima pemotongan gaji demi waktu luang, jabatan lebih rendah demi peran kreatif, atau beralih ke industri yang lebih stabil.

Sebanyak 70% Gen Z meragukan keamanan pekerjaan mereka akibat kemajuan AI. Akibatnya, banyak yang beralih ke sektor perdagangan terampil, kesehatan, dan pendidikan.

Meski menganut “career minimalism,” semangat wirausaha gen Z tetap tinggi.sebanyak 57% memiliki side hustle, lebih banyak dari generasi sebelumnya.

Motivasi utama mereka bukan hanya uang.Sebanyak 49% ingin menjadi bos bagi diri sendiri, sementara 42% ingin menyalurkan passion.

Bagi Gen Z, work-life balance adalah prioritas utama. Sebanyak 32% menyebutnya sebagai faktor terpenting dalam pekerjaan,dibandingkan 28% Millennial dan 25% Gen X.

Mereka rela mengutamakan keseimbangan ini daripada gaji tinggi.

“Pengusaha mungkin terkejut dengan perubahan sikap Gen Z,” kata Abrahami.

“Namun, ini bukan berarti mereka meninggalkan pekerjaan, melainkan mendefinisikan ulang ambisi melalui career minimalism. Jika tidak didukung dalam mencapai work-life balance, mereka mungkin kurang termotivasi atau mencari peluang yang lebih sesuai.”

Sebanyak 73% karyawan Gen Z menginginkan fleksibilitas kerja permanen, dan 72% mempertimbangkan keluar dari pekerjaan karena kebijakan yang kaku.

Perusahaan yang menawarkan fleksibilitas memiliki tingkat retensi 78% lebih tinggi untuk karyawan Gen Z.