Tutup
KoperasiPerbankan

Wamentan Dorong Pesantren Perkuat Ketahanan Pangan Nasional

236
×

Wamentan Dorong Pesantren Perkuat Ketahanan Pangan Nasional

Sebarkan artikel ini
wamentan-harap-pesantren-jadi-mitra-strategis-ketahanan-pangan
Wamentan Harap Pesantren Jadi Mitra Strategis Ketahanan Pangan

Jakarta – Pesantren berpotensi besar menjadi mitra strategis pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan nasional. Hal ini ditegaskan Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono.

Wamentan Sudaryono menyampaikan hal tersebut saat mengunjungi Koperasi Pondok Pesantren Al Ittifaq di Bandung, Jawa Barat, Selasa (8/10).

Menurutnya, pesantren memiliki keunggulan sebagai pusat pemberdayaan ekonomi dan agribisnis di pedesaan.

Model yang dikembangkan Al Ittifaq dinilai berhasil membuktikan bahwa lembaga pendidikan berbasis keagamaan dapat menjadi penggerak produksi pangan sekaligus membina petani secara profesional.

“Pesantren seperti Al Ittifaq ini adalah contoh konkret bagaimana lembaga keagamaan bisa menjadi agregator pertanian,” ujar Sudaryono dalam keterangan tertulis, Rabu (8/10).

Ia menjelaskan,dari lahan 14 hektare milik pesantren dan lebih dari 400 hektare lahan masyarakat binaan,mereka mampu membangun sistem produksi yang terintegrasi dan efisien.

Sudaryono mengapresiasi sistem budi daya hortikultura di Al Ittifaq yang sudah menggunakan metode modern, termasuk teknik tumpang sari empat varietas dalam satu bedengan.

Ia bahkan menugaskan Direktorat Jenderal Hortikultura untuk membentuk lembaga pelatihan khusus bagi anak muda dari daerah dengan karakter agroklimat serupa seperti Wonosobo, Temanggung, Malang, dan Pasuruan.

“Ilmu yang dipelajari dari luar negeri tidak bisa ditiru mentah-mentah. Harus disesuaikan dengan kondisi kita,” tegasnya.

Sudaryono menilai, pola agribisnis pesantren dapat menjadi penggerak baru ekonomi pedesaan.

Melalui sistem koperasi,pesantren dapat membantu petani melakukan standarisasi produk,pengendalian mutu,hingga pemasaran hasil panen ke berbagai segmen pasar.

model ini juga dinilai mampu menciptakan rantai produksi yang lebih teratur,di mana proses penyortiran hingga penentuan standar kualitas dilakukan secara terpusat,sehingga memberikan nilai tambah bagi para petani.

Ia mengaitkan kemandirian pertanian pesantren dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi prioritas pemerintah.

menurutnya, program tersebut bukan hanya soal pemerataan gizi anak sekolah, tetapi juga harus menggerakkan ekonomi desa.

“MBG ini harus memutar uang di desa. Sayur, ayam, telur, bumbu, nasi, semuanya dari desa untuk desa,” katanya.

Kementerian Pertanian berharap, melalui dukungan pelatihan, pendampingan, dan kemitraan pasar, model agribisnis pesantren seperti Al Ittifaq dapat menjadi pusat pertumbuhan ekonomi desa dan ketahanan pangan nasional.