Jakarta – Perjanjian perdagangan Resiprokal indonesia-Amerika Serikat (ART) membuka lebar pintu impor produk Amerika Serikat (AS) ke Indonesia.
Pemerintah memastikan akan ada forum berkala untuk membahas implementasi perjanjian ini.
Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Haryo Limanseto, mengungkapkan forum tersebut akan membahas berbagai hal.
Termasuk, kata dia, jika terjadi lonjakan impor produk AS yang signifikan.
“Melalui ketentuan dalam ART ini, Pemerintah Indonesia dan AS memiliki forum Council on Trade and Investment yang secara periodik akan membahas implementasi perjanjian ini,” ujar Haryo, dikutip Minggu (22/2).
Forum ini juga akan membahas jika terjadi lonjakan impor yang dapat mengganggu stabilitas pasar dalam negeri maupun perdagangan kedua negara.
Dalam perjanjian tersebut, Indonesia berkomitmen membeli sejumlah produk AS.
Beberapa di antaranya adalah Metallurgical Coal, LPG, Crude Oil, dan Refined gasoline.
Selain itu, Indonesia juga akan membeli pesawat beserta komponen dan jasa penerbangan.
Indonesia juga akan meningkatkan pembelian produk pertanian asal AS.
Produk ini akan digunakan sebagai bahan baku kebutuhan industri makanan dan minuman tertentu serta industri tekstil.
Komitmen ini tertuang dalam Annex IV perjanjian yang menyebutkan Indonesia akan mendukung dan memfasilitasi perjanjian komersial untuk impor barang dan jasa dari AS dengan nilai indikatif total hingga US$33 miliar.
Untuk produk pertanian, pemerintah menyetujui alokasi impor beras klasifikasi khusus sebanyak 1.000 ton dari AS.
Namun, realisasinya akan tergantung pada permintaan dalam negeri.
Haryo menjelaskan, dalam lima tahun terakhir, Indonesia tidak melakukan impor beras dari AS.
Komitmen impor beras AS sebesar 1.000 ton dinilai tidak signifikan, hanya sekitar 0,00003 persen dari total produksi beras nasional yang mencapai 34,69 juta ton pada tahun 2025.
Indonesia juga akan mengimpor produk ayam AS dalam bentuk live poultry untuk kebutuhan Grand parent Stock (GPS) sebanyak 580.000 ekor, dengan estimasi nilai sekitar US$17-20 juta.
Menurut Haryo, GPS sangat dibutuhkan peternak ayam dalam negeri sebagai sumber genetik utama dan belum ada fasilitas pembibitan GPS di Indonesia.
Impor bagian ayam seperti leg quarters, breasts, legs, atau thighs selama ini tidak dilarang.
Asalkan memenuhi persyaratan kesehatan hewan, keamanan pangan, kebutuhan tertentu, dan ketentuan teknis yang berlaku.
“untuk kebutuhan industri makanan domestik, Indonesia juga melakukan importasi mechanically deboned meat (MDM) sebagai bahan baku pembuatan sosis, nugget, bakso, dan produk olahan lainnya dengan estimasi volume impor sekitar 120-150 ribu ton per tahun,” terangnya.
Pemerintah menegaskan tetap memprioritaskan perlindungan peternak dalam negeri serta menjaga keseimbangan pasokan dan harga ayam nasional.
“Tidak ada kebijakan yang mengorbankan industri domestik,” tegasnya.
Indonesia juga berkomitmen meningkatkan impor jagung dengan target tahunan sebanyak 100 ribu ton.
Haryo menyebut kebutuhan importasi jagung untuk industri makanan dan minuman (MaMin) pada 2025 sekitar 1,4 juta ton.
Produk jagung asal AS dinilai memiliki spesifikasi dan standar mutu yang sesuai dengan kebutuhan industri MaMin.
“Ketentuan ini penting untuk Indonesia dalam rangka memastikan kecukupan bahan baku utama pada industri MaMin yang memiliki kontribusi 7,13 persen terhadap PDB Nasional, dan menyumbang 21 persen dari total ekspor industri non-migas (atau senilai US$48 miliar), dan menyerap lapangan kerja hingga 6,7 juta pada tahun 2025,” pungkasnya.







