Jakarta – Harga minyak mentah dunia diprediksi akan melonjak hingga mencapai US$95-US$100 per barel pada tahun 2026.
Proyeksi ini disampaikan oleh Indonesia commodity and Derivatives Exchange (ICDX) berdasarkan analisis situasi dan perkembangan terkini.
ICDX melihat potensi kuat harga minyak mentah untuk terus naik (bullish) hingga paruh kedua tahun ini.
“Kami memprediksi harga minyak mentah masih berpotensi kuat untuk melaju bullish hingga paruh kedua tahun ini,” ujar Research and Advancement ICDX, Girta Putra Yoga, akhir pekan lalu.
Level resistance harga diperkirakan berada di kisaran US$95-US$100 per barel, sementara level support di kisaran US$80-US$75 per barel.
Girta menambahkan, harapan penguatan harga minyak mentah global sudah terlihat sejak awal tahun ini.
Salah satu katalis utama adalah komitmen dari aliansi produsen OPEC untuk mempertahankan produksi hingga Desember 2026.
Selain itu, ketegangan geopolitik juga turut memengaruhi harga minyak, termasuk penangkapan Presiden venezuela Nicolas Maduro, isu akuisisi Greenland oleh Presiden AS Donald Trump, dan potensi konflik AS-Iran.
Pada awal Maret, harga minyak mentah sempat menyentuh level US$90 per barel, naik signifikan dari level US$57 per barel pada awal Januari 2026.
ICDX mencatat tahun 2025 sebagai periode yang penuh tantangan bagi komoditas minyak mentah.
Harga rata-rata minyak mentah mengalami penurunan lebih dari 21 persen,dari US$77 per barel di awal tahun menjadi US$60 per barel di akhir tahun.
Pada paruh pertama tahun 2025, harga minyak mentah turun hampir 10 persen, dengan harga rata-rata diperdagangkan di kisaran US$69 per barel.
Pergerakan harga minyak mentah global juga dipengaruhi oleh perang tarif yang diberlakukan oleh Donald Trump terhadap China, Kanada, dan Meksiko.
Akibatnya, harga minyak mentah rata-rata sempat menyentuh level US$62 per barel pada Mei 2025.
Harga kembali menguat setelah AS dan China sepakat melakukan jeda tarif selama 90 hari.
Penguatan harga berlanjut hingga penutupan kuartal pertama tahun ini, didorong oleh eskalasi konflik di Timur Tengah pasca operasi “Rising Lion” Israel ke Iran, meskipun tren ini tidak bertahan lama.







