BEIRUT – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memerintahkan serangan militer ke kawasan pinggiran selatan Beirut, Lebanon, yang selama ini menjadi basis Hizbullah, Senin (1/6). Eskalasi serangan ini memicu ketegangan baru dan mengancam upaya mediasi diplomatik untuk meredam konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran.
Netanyahu menegaskan bahwa militer Israel tidak akan membiarkan markas Hizbullah di Dahiyeh, Beirut, tetap aman selama kelompok tersebut terus melancarkan serangan ke wilayah Israel.
“Tidak akan ada situasi di mana Hizbullah menyerang kota-kota dan warga negara kita, sementara markas teroris mereka di Beirut dibiarkan,” ujar Netanyahu dalam sebuah pernyataan video.
Ia menambahkan, militer Israel terus memperluas aktivitas darat di Lebanon selatan dengan membentuk zona penyangga. Langkah ini diklaim sebagai upaya untuk melindungi wilayah utara Israel dari gempuran Hizbullah.
Serangan terbaru ini membuat warga di Dahiyeh kembali diliputi kepanikan. Banyak penduduk terpaksa meninggalkan tempat tinggal mereka setelah militer Israel mengeluarkan peringatan evakuasi. Kondisi ini menambah panjang gelombang pengungsian di Lebanon, yang hingga saat ini dilaporkan telah mencapai lebih dari 1 juta orang.
Naji Musulmani (61), seorang warga yang memilih mengungsi, mengaku telah tiga kali berpindah tempat sejak gencatan senjata diumumkan. Saat ini, ia bersama keluarganya berupaya menuju Tripoli di wilayah utara Lebanon demi menghindari area konflik.
Di sisi lain, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menilai serangan Israel di Lebanon sebagai hambatan besar bagi proses diplomatik. Baghaei menegaskan bahwa gencatan senjata di Lebanon merupakan elemen krusial yang tidak bisa dipisahkan dari kesepakatan damai apa pun.
Serangan ini menandai perubahan pola militer Israel yang sebelumnya sempat mereda di Beirut sejak pengumuman gencatan senjata pada 16 April lalu. Pemerintah Israel beralasan, keputusan untuk kembali menyerang diambil menyusul adanya pelanggaran berulang yang dilakukan oleh Hizbullah terhadap wilayah Israel.







