Tutup
Regulasi

Wall Street Dekati Rekor Tertinggi Berkat Lonjakan Saham AI

96
×

Wall Street Dekati Rekor Tertinggi Berkat Lonjakan Saham AI

Sebarkan artikel ini

NEW YORK – Wall Street mengawali perdagangan bulan Juni dengan pergerakan yang stabil di dekat level tertinggi sepanjang masa. Optimisme investor terhadap kemajuan kecerdasan buatan (AI) menjadi motor penggerak pasar, sekaligus mampu menahan tekanan akibat eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang memicu kenaikan harga energi.

Pada perdagangan pagi waktu setempat, indeks S&P 500 naik tipis 0,02% ke level 7.581,88, sementara Nasdaq menguat 0,15% ke 27.012,14. Di sisi lain, Dow Jones tercatat melemah 0,35% ke posisi 50.855,46.

Sentimen pasar didorong oleh lonjakan saham Nvidia sebesar 4%. Kenaikan ini terjadi setelah perusahaan tersebut meluncurkan chip terbaru hasil kolaborasi tiga tahun dengan Microsoft, yang memungkinkan fitur AI dijalankan langsung pada laptop dan komputer pribadi. Kabar ini turut mendongkrak saham Microsoft sebesar 2,5% dan mendorong indeks sektor teknologi S&P 500 naik 1,5%.

Meski demikian, euforia di sektor semikonduktor tidak merata. Saham Qualcomm, AMD, dan Intel justru mengalami tekanan jual dengan penurunan masing-masing sebesar 6%, 3,1%, dan 4,4%. Sebaliknya, Micron Technology mencatatkan kinerja impresif dengan lonjakan 5,7%, menembus level psikologis US$1.000 per saham untuk pertama kalinya.

Kepala Strategi Ekonomi Annex Wealth Management, Brian Jacobsen, menilai bahwa Nvidia memang berpotensi memperluas pasar komputer AI. Namun, pertumbuhan ini kemungkinan besar akan menggerus pangsa pasar pemain lama, sementara perusahaan chip memori seperti Micron justru diuntungkan sebagai penyedia komponen pelengkap.

Di luar sektor teknologi, investor tetap mewaspadai risiko geopolitik. Harga minyak dunia melonjak sekitar 5% menyusul laporan terhentinya negosiasi antara Iran dan AS terkait konflik di Lebanon. Ketegangan ini memicu kekhawatiran akan kembali meningkatnya inflasi global. Akibatnya, sembilan dari 11 sektor utama S&P 500 berada di zona merah, dengan sektor barang konsumsi non-primer mencatat penurunan terdalam sebesar 2%.

Di sisi lain, sektor perangkat lunak menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Saham ServiceNow melesat 10,7% dan IBM naik 6%. Indeks layanan perangkat lunak secara keseluruhan berhasil menguat 3%, sekaligus menghapus kerugian sejak akhir Januari lalu. Selain itu, saham Taylor Morrison Home Corp melonjak signifikan sebesar 22% pasca kesepakatan akuisisi oleh Berkshire Hathaway senilai US$6,8 miliar.

Ke depan, para pelaku pasar kini tengah menantikan rilis laporan ketenagakerjaan AS pada hari Jumat dan laporan keuangan Broadcom pada hari Rabu. Data tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran lebih jelas mengenai kesehatan ekonomi Amerika Serikat dan arah kebijakan moneter The Federal Reserve.

Pasar saat ini memperkirakan adanya peluang sekitar 70% kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin sebelum akhir tahun. Hal ini dipicu oleh kekhawatiran bahwa gejolak di Timur Tengah dapat menjadi katalis inflasi baru yang memaksa bank sentral untuk bersikap lebih ketat.

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Sejak beberapa bulan kemarin, regulator sudah menetapkan kebijakan baru mengenai batas saham beredar bebas alias free float menjadi minimum 15%. Menjelang tenggat waktu kebijakan ini, sejumlah emiten bank terlihat masih kesulitan meningkatkan jumlah free float-nya. Dari riset Kontan, sampai dengan Senin (1/6/2026), setidaknya masih ada sekitar 24 emiten bank yang jumlah free float-nya belum mencapai free float 15%. Untuk…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Pasar saham Indonesia masih lesu menjelang pertengahan tahun 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) koreksi dalam dan tren initial public offering (IPO) sepi tahun ini. Berdasarkan data dari Bursa Efek Indonesia (BEI), per 22 Mei 2026 baru ada satu emiten yang IPO sepanjang tahun ini, yaitu PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA) dengan dana dihimpun Rp 0,30 triliun. Hingga saat ini, terdapat 15 perusahaan dalam pipeline…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Perusahaan securities crowdfunding atau urun dana PT Dana Aguna Nusantara (Danamart) menilai kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) atau BI Rate menjadi 5,25% dapat mempengaruhi preferensi sebagian investor (pemodal), khususnya terhadap instrumen dengan profil risiko relatif lebih rendah seperti produk perbankan. Meski demikian, Head of Marketing Communication Danamart Cindera Hegawan optimistis minat investor…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Rupiah spot ditutup pada level Rp 16.805 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan Senin (1/6/2026), rebound 0,43% dari akhir pekan lalu yang ada di Rp 17.881 per dolar AS. Di Asia, rupiah menguat bersama rupee India dan yuan China. Rupiah menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di Asia yakn i 0,43%, disusul rupee yang menguat 0,01% dan yuan China yang menguat 0,01% terhadap dolar AS. Sedangkan mayoritas…