Tutup
Regulasi

BI Ungkap 3 Jalur Dampak Perang Timur Tengah bagi Ekonomi RI

151
×

BI Ungkap 3 Jalur Dampak Perang Timur Tengah bagi Ekonomi RI

Sebarkan artikel ini

JAKARTA – Bank Indonesia (BI) mewaspadai dampak eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah terhadap stabilitas ekonomi domestik. Otoritas moneter telah memetakan tiga jalur utama transmisi risiko yang berpotensi menekan perekonomian Indonesia, yakni sektor finansial, fluktuasi harga komoditas, dan arus perdagangan global.

Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, mengungkapkan bahwa ketegangan yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat ini memicu dampak multisektoral. Meski dampak langsung dari konflik Iran dan Israel terhadap sektor keuangan dunia tergolong minim, keterlibatan AS sebagai pusat keuangan global memberikan efek domino yang cukup signifikan.

Ketidakpastian global memicu fenomena *risk-off* di kalangan investor, di mana dana dialihkan dari aset berisiko ke aset aman (*safe haven*) di negara maju. Kondisi ini menyebabkan arus modal keluar (*outflow*) dari pasar berkembang, termasuk Indonesia. Destry mencatat, meskipun terdapat arus masuk (*inflow*) di instrumen SBN dan saham, secara keseluruhan Indonesia masih mencatatkan *outflow* sebesar Rp21 triliun.

Tekanan di jalur finansial semakin terasa dengan penguatan indeks dolar AS (DXY) serta kenaikan imbal hasil US Treasury yang menyentuh level 4,5%—4,6%. Hal ini memicu peningkatan inflasi dan premi risiko yang pada akhirnya menekan nilai tukar rupiah.

Dari jalur harga komoditas, konflik ini secara langsung mengerek harga minyak mentah global. Posisi Selat Hormuz yang krusial bagi 20% pasokan minyak dunia membuat risiko gangguan distribusi menjadi ancaman nyata. Di sisi lain, harga emas sebagai aset *safe haven* ikut melonjak, diikuti kenaikan harga komoditas lain seperti batu bara, LNG, aluminium, hingga minyak kelapa sawit (CPO).

Destry menilai, kenaikan harga komoditas ekspor andalan Indonesia tersebut memberikan sisi positif yang menyeimbangkan beban kenaikan harga minyak. “Secara tidak langsung dampaknya cukup bagus bagi ekspor Indonesia karena kita produsen batu bara, CPO, dan emas. Kita perlu melihat ini secara seimbang,” jelasnya.

Pada jalur perdagangan, meskipun porsi ekspor-impor Iran terhadap perdagangan global tergolong kecil, hambatan di Selat Hormuz berisiko mengganggu rantai pasok global. Gangguan ini berpotensi meningkatkan biaya logistik, ongkos pengapalan, serta premi asuransi bagi mitra dagang utama di kawasan tersebut, seperti China, India, dan Turki.

Secara keseluruhan, BI memproyeksikan akumulasi dari ketiga jalur transmisi ini akan memicu kenaikan harga komoditas yang meluas. Situasi ini dikhawatirkan mengarah pada kondisi stagflasi global, di mana pertumbuhan PDB dunia melambat namun dibayangi oleh inflasi yang tinggi. BI menegaskan pentingnya respons kebijakan yang tepat guna memitigasi dampak tekanan ekonomi ini terhadap Indonesia.

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya terkoreksi setelah mencatat penguatan selama lima hari berturut-turut. Meski sempat dibuka di zona hijau, tekanan jual membuat IHSG berbalik arah dan ditutup melemah pada akhir perdagangan Rabu (15/4/2026). Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui RTI, IHSG turun 0,68% atau terkoreksi 52,36 poin ke level 7.623,58. Baca Juga: Reli IHSG Terhenti SumbarSumbarbisnis.com Sell Asing…