Jakarta – PT Bank Tabungan Negara (Persero) tbk atau BTN memperkuat mesin pertumbuhan kreditnya melalui pembangunan Loan Factory. inisiatif ini dirancang untuk mempercepat proses, meningkatkan kapasitas, serta menjaga kualitas portofolio kredit agar lebih terkontrol.
Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu, menjelaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari transformasi berkelanjutan proses bisnis kredit perseroan. Model yang sebelumnya tersebar di kantor cabang kini diubah menjadi sistem yang terintegrasi dan berbasis proses.
“BTN menerima sekitar 1.000 aplikasi KPR setiap hari. Jika mengandalkan cara kerja manual di masing-masing cabang, itu berisiko. Dalam skala sebesar ini, proses harus terstandarisasi dan dijalankan dengan sistem yang sama,” ujar Nixon, Senin (13/4/2026).
Nixon menegaskan, standardisasi menjadi kunci bagi BTN untuk memastikan kualitas layanan dan produk tetap konsisten di seluruh Indonesia. Menurutnya, untuk menjadi perusahaan besar, setiap proses, syarat, dan cara kerja harus seragam agar hasilnya konsisten.
Pembangunan loan Factory merupakan kelanjutan dari peta jalan transformasi yang dimulai sejak 2019. Sebelumnya, BTN telah membentuk Regional Loan processing Center (RLPC) untuk meningkatkan kualitas proses dan menekan potensi deviasi kredit.
Melalui Loan Factory,BTN kini mengintegrasikan seluruh alur kerja dalam satu model terpusat,mulai dari input data,verifikasi,analisa,hingga persetujuan dan pencairan kredit. Pendekatan ini menciptakan spesialisasi fungsi di setiap tahapan agar lebih efisien dan akurat.
Selain itu, BTN mengimplementasikan decision engine pada proses credit scoring untuk mempercepat analisa. Dengan integrasi ini, BTN menargetkan percepatan waktu proses kredit dari yang sebelumnya sekitar 6 hari kerja menjadi jauh lebih singkat.
Nixon menambahkan, Loan Factory memiliki peran strategis sebagai mesin pertumbuhan kredit sekaligus penjaga kualitas risiko. Sistem ini diharapkan menjadi penggerak utama dalam meningkatkan efisiensi operasional perusahaan ke depan.







