Jakarta – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil lahadalia mengungkap strategi pemerintah dalam menjaga pasokan energi di dalam negeri, yang ia ibaratkan seperti permainan sepak bola Barcelona, yakni bertahan dan menyerang.
“Kementerian ESDM berpikir seperti main bola, seperti Barcelona bertahan dan menyerang,” ujar bahlil dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (20/4).
Bahlil menjelaskan, strategi bertahan dilakukan dengan mempertahankan produksi lifting yang ada di dalam negeri.Adapun strategi menyerang ditempuh dengan mencari potensi sumber energi baru untuk menjaga kebutuhan pasokan di Tanah Air.
“Harapannya, target (lifting) 2029-2030 semakin hari semakin membuahkan hasil, targetnya 900 ribu hingga 1.000 ribu barel,” jelasnya.
Melalui strategi itu,Kementerian ESDM dapat memastikan kebutuhan energi terpenuhi lewat produksi,sekaligus mengoptimalkan kebutuhan domestik dan menyisihkan sebagian untuk pasar ekspor.
Terbaru, Bahlil mengumumkan temuan sumber energi gas baru dengan total potensi cadangan 7 triliun cubic feed (Tcf) di Kalimantan Timur.
temuan tersebut berasal dari dua blok, yakni Geliga dan Gula, yang dikelola perusahaan migas asal italia, Eni.
“Saya mengumumkan bahwa Eni baru mendapatkan satu wilayah kerja baru Gas Jumbo dari Blok Geliga yang menghasilkan 5 Tcf untuk gas dan kita mendapat kondensat sekitar 300 juta barel minyak equivalent,” ujar Bahlil dalam konferensi pers, Senin (20/4).
Dengan demikian, pada 2028 Bahlil mengungkapkan Eni akan memaksimalkan potensi hingga 2.000 MMSCFS untuk gas. Saat ini, produksinya masih di kisaran 600-700 MMSCFS, dan diharapkan mencapai 2.000 MMSCFS pada 2028 serta meningkat menjadi 3.000 MMSCF pada 2030.
Selain gas, Bahlil mengungkapkan Indonesia akan memproduksi 90 ribu barel kondensat mulai 2028. Targetnya, pada 2029 hingga 2030, jumlah produksi itu terus bertambah hingga 150 ribu barel.
“Ini adalah strategi bagaimana gas kita tidak kita lakukan impor dari negara manapun, kita harus memenuhi kebutuhan dalam negeri,” jelasnya.
Bahlil juga mengatakan pemanfaatan gas akan didorong untuk kebutuhan industri hilirisasi. Selanjutnya, hal itu juga akan mengurangi impor crude oil dengan penambahan kondensat 90 ribu hingga 150 ribu barel pada 2030.
Selain itu, Bahlil meminta kepala SKK Migas untuk mengecek jenis gas tersebut. “Kalau C3-C4, cukup untuk bangun industri LPG, maka akan kita bangun langsung di Kaltim untuk memenuhi kebutuhan domestik,” ujarnya.
Upaya itu sekaligus untuk mengamankan kebutuhan lotte chemical tahun ini sekitar 1,5 juta ton sebagai bahan baku industrinya di Cilegon, serta beberapa industri petrokimia lain yang membutuhkan gas dan LPG.
“Ini penting di era kondisi dunia menjaga kondisi cadangan mereka, kita bersyukur dan fokus untuk mencari cadangan minyak baru,” tandasnya.







