Tutup
Regulasi

Sektor Saham yang Berpotensi Menguat di Tengah Konflik AS-Iran

59
×

Sektor Saham yang Berpotensi Menguat di Tengah Konflik AS-Iran

Sebarkan artikel ini

JAKARTA – Memanasnya tensi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran menjadi katalis positif bagi sejumlah sektor saham di pasar modal, terutama di sektor energi. Lonjakan harga komoditas global dan kekhawatiran akan gangguan pasokan energi diproyeksikan akan mendongkrak kinerja emiten minyak, gas (migas), serta batu bara.

Direktur Corporate Ratings Fitch, Felita, menyatakan bahwa sektor migas, khususnya di lini hulu (*upstream*), menjadi pihak yang paling diuntungkan. Kenaikan harga minyak mentah di pasar internasional dinilai mampu mengompensasi lonjakan biaya operasional, termasuk beban energi dan logistik.

Selain migas, sektor batu bara termal juga diprediksi mencatatkan kinerja positif. Felita menjelaskan, tingginya harga gas dunia memicu negara-negara di Asia, seperti Korea Selatan, Jepang, dan Taiwan, untuk mengalihkan sumber energi mereka ke batu bara.

Di sisi lain, dinamika pasar keuangan menunjukkan reaksi yang cukup variatif. Direktur Utama Mandiri Sekuritas, Oki Ramadhana, menyebutkan bahwa konflik tersebut memicu kenaikan harga minyak sekaligus mendorong aksi jual pada berbagai kelas aset investasi.

“Hampir semua aset sempat mengalami tekanan, bahkan emas yang sebelumnya menguat pun sempat terkoreksi,” ujar Oki.

Meski terjadi gejolak, para investor mulai melirik sektor yang diuntungkan dari kondisi ini. Saham-saham energi kembali menjadi primadona karena prospek keuntungan yang lebih menjanjikan. Selain itu, komoditas batu bara dinilai menarik karena dapat berfungsi sebagai lindung nilai (*hedging*) di tengah penguatan dolar AS.

Ke depan, minat investor terhadap sektor komoditas diperkirakan terus meningkat. Hal ini dipicu oleh kekhawatiran terhadap risiko stagflasi global, yakni kombinasi antara perlambatan pertumbuhan ekonomi dan inflasi tinggi akibat lonjakan belanja fiskal serta rasio utang di banyak negara.

“Tidak hanya minyak dan gas, seluruh sektor komoditas berpotensi menarik minat investor,” tambah Oki.

Dalam konteks ini, Indonesia dipandang berada pada posisi strategis. Sebagai negara produsen komoditas, Indonesia memiliki peluang besar untuk memanfaatkan momentum kenaikan harga global guna mendongkrak kinerja ekspor dan memacu pertumbuhan ekonomi nasional.

***

*Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak untuk membeli atau menjual saham tertentu. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan pembaca. Segala bentuk kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi adalah tanggung jawab pembaca sepenuhnya.*

Regulasi

Pasar saham Indonesia terus berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir, terutama didorong oleh meningkatnya minat generasi muda terhadap instrumen investasi yang lebih modern dan fleksibel. Salah satu instrumen yang sering menjadi sorotan adalah saham blue chip, yaitu saham dari perusahaan besar yang memiliki fundamental kuat, kinerja stabil, s…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Grup Bakrie kembali bermanuver di pasar modal dengan menggelar aksi korporasi. Berbagai langkah ditempuh, salah satunya Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) alias rights issue. Dalam catatan Kontan, setidaknya ada tiga emiten Grup Bakrie yang akan melakukan rights issue. Yakni, PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) yang berencana menerbitkan 86,70 miliar saham dengan potensi dilusi 33,33%. Meski…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Sejumlah emiten akan mendapatkan dampak langsung pasca Bursa Efek Indonesia (BEI) mengubah kriteria evaluasi indeks-indeks utama, yaitu LQ45, IDX30, dan IDX80. Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia Harry Su menilai, perubahan kriteria tersebut bertujuan untuk meningkatkan likuiditas dan representasi pasar yang lebih sehat. Dengan kriteria baru yang lebih ketat, saham-saham seperti PT Surya Citra Media Tbk…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) telah menetapkan pembagian total dividen tunai untuk tahun buku 2025 sebesar Rp 52,1 triliun atau Rp 346 per lembar saham. Pembagian nilai dividen tersebut telah disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang diadakan awal bulan ini. Adapun total nilai dividen tersebut sudah termasuk dividen interim sebesar Rp 137 per saham atau Rp 20,6 triliun yang telah dibayarkan pada…