JAKARTA – Memanasnya tensi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran menjadi katalis positif bagi sejumlah sektor saham di pasar modal, terutama di sektor energi. Lonjakan harga komoditas global dan kekhawatiran akan gangguan pasokan energi diproyeksikan akan mendongkrak kinerja emiten minyak, gas (migas), serta batu bara.
Direktur Corporate Ratings Fitch, Felita, menyatakan bahwa sektor migas, khususnya di lini hulu (*upstream*), menjadi pihak yang paling diuntungkan. Kenaikan harga minyak mentah di pasar internasional dinilai mampu mengompensasi lonjakan biaya operasional, termasuk beban energi dan logistik.
Selain migas, sektor batu bara termal juga diprediksi mencatatkan kinerja positif. Felita menjelaskan, tingginya harga gas dunia memicu negara-negara di Asia, seperti Korea Selatan, Jepang, dan Taiwan, untuk mengalihkan sumber energi mereka ke batu bara.
Di sisi lain, dinamika pasar keuangan menunjukkan reaksi yang cukup variatif. Direktur Utama Mandiri Sekuritas, Oki Ramadhana, menyebutkan bahwa konflik tersebut memicu kenaikan harga minyak sekaligus mendorong aksi jual pada berbagai kelas aset investasi.
“Hampir semua aset sempat mengalami tekanan, bahkan emas yang sebelumnya menguat pun sempat terkoreksi,” ujar Oki.
Meski terjadi gejolak, para investor mulai melirik sektor yang diuntungkan dari kondisi ini. Saham-saham energi kembali menjadi primadona karena prospek keuntungan yang lebih menjanjikan. Selain itu, komoditas batu bara dinilai menarik karena dapat berfungsi sebagai lindung nilai (*hedging*) di tengah penguatan dolar AS.
Ke depan, minat investor terhadap sektor komoditas diperkirakan terus meningkat. Hal ini dipicu oleh kekhawatiran terhadap risiko stagflasi global, yakni kombinasi antara perlambatan pertumbuhan ekonomi dan inflasi tinggi akibat lonjakan belanja fiskal serta rasio utang di banyak negara.
“Tidak hanya minyak dan gas, seluruh sektor komoditas berpotensi menarik minat investor,” tambah Oki.
Dalam konteks ini, Indonesia dipandang berada pada posisi strategis. Sebagai negara produsen komoditas, Indonesia memiliki peluang besar untuk memanfaatkan momentum kenaikan harga global guna mendongkrak kinerja ekspor dan memacu pertumbuhan ekonomi nasional.
***
*Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak untuk membeli atau menjual saham tertentu. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan pembaca. Segala bentuk kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi adalah tanggung jawab pembaca sepenuhnya.*







