Tutup
Regulasi

Penyebab IHSG Anjlok 3 Persen: Analisis Lengkap Kondisi Pasar Hari Ini

47
×

Penyebab IHSG Anjlok 3 Persen: Analisis Lengkap Kondisi Pasar Hari Ini

Sebarkan artikel ini

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah signifikan pada sesi pertama perdagangan Jumat (24/4). Indeks komposit terperosok ke zona merah dengan koreksi sebesar 225,75 poin atau -3,06 persen, menetap di level 7.152,85.

Pelemahan ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya situasi di Selat Hormuz yang memicu kekhawatiran potensi blokade. Kondisi tersebut mendorong lonjakan harga minyak mentah dunia hingga menembus level di atas USD 100 per barel.

Global Market Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, menjelaskan bahwa kenaikan harga minyak tersebut memicu aksi *flight to safety* atau sikap *risk averse* dari investor global, terutama pada negara-negara yang merupakan importir minyak neto.

“Investor cenderung mengambil langkah aman karena kenaikan harga minyak di atas USD 100 per barel berisiko meningkatkan tekanan *imported inflation*. Jika tidak diantisipasi dengan kebijakan fiskal yang tepat, kondisi ini dapat menekan makroekonomi, meski sejauh ini dampak terhadap Indonesia dinilai masih relatif solid,” ujar Myrdal.

Selain sentimen geopolitik, pelaku pasar global juga tengah memantau perkembangan keputusan MSCI terkait status investasi Indonesia. Meski Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah melakukan perbaikan, termasuk peningkatan *free float* saham, investor masih bersikap *wait and see*.

Sementara itu, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai koreksi yang terjadi pada IHSG saat ini masih berada dalam fase yang wajar. Secara teknikal, indeks berpotensi menguji area *wave (ii)* atau *wave (a)* dalam pola pergerakan jangka pendek.

Nafan menambahkan bahwa pasar masih mencermati eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang memicu ketidakpastian. Situasi ini mendorong investor beralih ke aset *safe haven* seperti dolar AS.

“Hal ini terlihat dari pelemahan rupiah yang mencapai 105 poin ke level Rp 17.280, di saat harga minyak Brent melonjak ke kisaran USD 106 per barel,” pungkas Nafan.