Padang – Rombongan jemaah haji Kloter 7 Debarkasi Padang telah tiba kembali di tanah air. Kepulangan mereka membawa beragam kisah spiritual, terutama saat menjalani prosesi puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
Bagi para jemaah, fase Armuzna menjadi momentum untuk menanggalkan seluruh atribut kedudukan maupun profesi duniawi. Mereka merasa benar-benar setara di hadapan Sang Pencipta.
Jemaah asal Bukittinggi, Merita Roza, mengaku fase Armuzna sangat membekas di ingatannya. Menurutnya, berbaur dengan jutaan umat dari berbagai negara menuntut kedisiplinan dan sikap saling menghargai yang tinggi.
“Di Armuzna, kesabaran dan kebersamaan benar-benar dilatih. Kita dituntut untuk disiplin dan menghargai waktu,” ujar Merita saat ditemui di Asrama Haji Padang, Kamis (11/6/2026).
Selain refleksi spiritual, Merita juga mengapresiasi kualitas layanan selama di Arab Saudi. Ia menilai fasilitas akomodasi serta konsumsi yang disediakan penyelenggara telah menunjang kenyamanan jemaah selama beribadah.
Hal senada disampaikan Ayu Romaniza yang memaknai pakaian ihram sebagai simbol kesetaraan manusia. Baginya, rangkaian ibadah tersebut merupakan ajang efektif untuk belajar kerendahan hati.
Meski begitu, Ayu memberikan catatan evaluasi bagi penyelenggaraan haji mendatang, khususnya untuk jemaah lanjut usia. Ia berharap ada sistem pendampingan yang lebih intensif agar jemaah lansia dapat menjalankan ibadah fisik dengan optimal.
“Bagi jemaah lansia hendaknya memang ada pendamping yang lebih fokus. Jika hanya mengandalkan teman satu rombongan, terkadang cukup sulit karena setiap jemaah juga fokus menjalankan ibadah masing-masing,” ungkap Ayu.
Kini, para jemaah berharap nilai-nilai kesabaran dan kerendahan hati yang didapat selama ibadah haji bisa terus terjaga. Mereka memandang haji bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan proses transformasi diri menjadi pribadi yang lebih bersahaja.







