Jakarta – Gelombang penipuan digital yang kian canggih memaksa VIDA memperkuat pertahanan identitas di Indonesia. Perusahaan identitas digital itu resmi memperkenalkan ID FraudShield dalam acara VIDA Beyond Liveness di Jakarta, Selasa, 6 Mei 2026, sebagai sistem deteksi ancaman berbasis kecerdasan buatan yang bekerja secara real time.
Peluncuran ini hadir di tengah peningkatan risiko kejahatan siber yang menekan publik dan industri.Otoritas Jasa Keuangan mencatat kerugian akibat penipuan digital telah mencapai Rp9,1 triliun pada periode November 2024 hingga Januari 2026. Dalam rentang yang sama, pengaduan masyarakat disebut rata-rata menyentuh 1.000 laporan setiap hari.
Acara tersebut dibuka Direktur Jenderal Ekosistem Digital Kementerian Komunikasi dan Digital RI, Edwin Hidayat Abdullah. Ia menilai ancaman yang terus berkembang tidak bisa dihadapi oleh satu pihak saja.
“Skala ancaman ini menuntut pendekatan yang terintegrasi dan kolaboratif, mensinergikan kebijakan yang kokoh, peran aktif institusi, serta implementasi teknologi yang mumpuni,” kata Edwin. Ia menegaskan perlindungan digital yang efektif hanya dapat dibangun lewat kerja bersama pemerintah,industri,dan penyedia teknologi keamanan.
VIDA melihat modus penipuan saat ini sudah bergerak melampaui sekadar manipulasi wajah. pelaku kini memanfaatkan injection attacks untuk menyisipkan gambar palsu ke sistem verifikasi, emulator farms untuk menjalankan ribuan identitas tiruan, serta GPS spoofing guna memalsukan lokasi pengguna.
Founder dan Group CEO VIDA, Niki Luhur, mengatakan sistem perlindungan tidak lagi cukup jika hanya memeriksa satu titik. “Kita tidak bisa lagi hanya bergantung pada pemeriksaan orangnya saja, tetapi juga harus memeriksa perangkat dan jaringannya secara simultan,” ujarnya.
Melalui ID FraudShield,VIDA menggabungkan sejumlah lapisan deteksi dalam satu rangkaian,mulai dari Biometric Liveness,Device Intelligence,Behavioral Analytics,Network and Location,Rule Engine,hingga ID Graph. Sistem ini dirancang untuk memberi visibilitas lebih utuh terhadap ancaman yang kerap lolos dari pemeriksaan konvensional.
Di dalamnya, Biometric Liveness dipakai untuk menangkal deepfake, spoofing, dan screen replay. Device Intelligence membantu mendeteksi emulator, perangkat rooted atau jailbroken, serta aplikasi kloning. Sementara Network and Location memantau anomali koneksi seperti VPN, proxy, dan GPS spoofing.
VIDA juga memasukkan analisis perilaku pengguna selama proses verifikasi. Lewat ID Graph, perusahaan itu menghubungkan data perangkat, dokumen, dan biometrik lintas sesi untuk mengidentifikasi synthetic identity, device farms, hingga mule accounts atau rekening perantara.
teknologi tersebut dinilai penting bagi sektor yang paling rawan fraud,seperti perbankan,multifinance,pinjaman digital,asuransi,dan layanan pembayaran. VIDA mengeklaim pendekatan itu dapat memperkuat deteksi tanpa mengganggu pengalaman pengguna maupun kepatuhan terhadap regulasi.
Niki menyebut pengembangan ID FraudShield lahir dari temuan di lapangan bahwa sistem liveness konvensional memiliki celah saat berhadapan dengan serangan yang semakin mutakhir. Ia memastikan VIDA akan terus memperluas perlindungan agar industri mampu mengenali ancaman yang sebelumnya tak terdeteksi sistem biasa.







