Tutup
Perbankan

PLN EPI Dorong Pengelolaan Sampah Pesisir Bagek Kembar

67
×

PLN EPI Dorong Pengelolaan Sampah Pesisir Bagek Kembar

Sebarkan artikel ini
PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) bersama PT Pelayaran Bahtera Adhiguna menggulirkan program pengembangan dan pendampingan pengelolaan sampah terpadu di kawasan wisata Pantai Bagek Kembar, Kelurahan Tanjung Karang Permai, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, Selasa (12/5).
PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) bersama PT Pelayaran Bahtera Adhiguna menggulirkan program pengembangan dan pendampingan pengelolaan sampah terpadu di kawasan wisata Pantai Bagek Kembar, Kelurahan Tanjung Karang Permai, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, Selasa (12/5).

Mataram – Pengelolaan sampah di kawasan wisata pantai Bagek Kembar, Kelurahan Tanjung Karang Permai, mulai masuk tahap pendampingan terpadu setelah PT PLN energi Primer Indonesia (PLN EPI) dan PT Pelayaran Bahtera Adhiguna meluncurkan program penguatan pengelolaan sampah pesisir, Selasa (12/5). Program ini dipasang untuk menekan timbulan sampah sekaligus mendukung pengurangan emisi gas rumah kaca di wilayah sekitar proyek gasifikasi PLTMGU Lombok Peaker.

Inisiatif tersebut melibatkan pemerintah daerah, kelompok sadar wisata atau Pokdarwis, serta jajaran PLN Group. Fokusnya tidak hanya membersihkan kawasan pantai, tetapi juga membangun sistem pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular dan pemberdayaan warga pesisir.

Sekretaris Perusahaan PLN EPI, Mamit Setiawan, mengatakan program itu merupakan bagian dari tanggung jawab sosial dan lingkungan perusahaan. Ia menegaskan PLN EPI ingin kehadirannya memberi dampak langsung bagi masyarakat dan lingkungan sekitar kawasan wisata.

“Program ini merupakan bagian dari komitmen TJSL PLN EPI dalam mendukung pengembangan wisata pesisir yang bersih, berkelanjutan, dan berbasis pemberdayaan masyarakat. Kami ingin menghadirkan dampak nyata tidak hanya bagi lingkungan, tetapi juga bagi peningkatan kapasitas dan ekonomi masyarakat sekitar,” ujar Mamit.

Menurut dia,lonjakan aktivitas wisata turut memicu bertambahnya volume sampah di pesisir. Karena itu, penanganannya harus dilakukan secara menyeluruh, tidak lagi parsial, melainkan terhubung dari hulu ke hilir.

Sebagai tindak lanjut, PLN EPI bersama PT Pelayaran Bahtera Adhiguna menjalankan sejumlah langkah, mulai dari pelatihan pemilahan sampah organik dan anorganik, penguatan kelembagaan Pokdarwis, pengembangan budidaya maggot, hingga penyediaan sarana pengelolaan sampah terpadu.

Mamit menambahkan, program tersebut juga diarahkan untuk memperluas praktik ekonomi sirkular. Dalam skema ini,sampah tidak berhenti sebagai limbah,melainkan diolah menjadi produk bernilai seperti pupuk organik dan maggot.

Dukungan juga datang dari PLN Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Mataram. Manajer PLN UP3 Mataram, Hengky Purbo Lesmono, menilai keberhasilan pembangunan tidak cukup dilihat dari ketersediaan infrastruktur energi semata.

“PLN UIW NTB memiliki komitmen kuat untuk terus hadir sebagai perusahaan yang tidak hanya menyediakan listrik yang andal, tetapi juga menjadi bagian dari solusi sosial dan lingkungan di tengah masyarakat,” kata Hengky.

Dari lingkungan kelurahan, lurah Tanjung karang Permai Nani Nurkomala menilai persoalan sampah di kawasan wisata pesisir hanya bisa diatasi jika semua pihak ikut terlibat.Ia menyebut setiap warga memiliki tanggung jawab yang sama dalam menjaga kebersihan lingkungan.

“Sekecil apa pun upaya kita dalam mengelola sampah akan sangat berarti. Kita semua penghasil sampah, sehingga kita juga punya tanggung jawab untuk mengelolanya dengan baik,” ujarnya.

Nani juga menekankan pentingnya edukasi pemilahan sampah sejak dari rumah dan kawasan wisata agar beban tempat pemrosesan akhir (TPA) bisa ditekan. Menurut dia, kesadaran memilah sampah menjadi langkah awal yang krusial.

Data Dinas Lingkungan Hidup Kota Mataram menunjukkan, produksi sampah di kota ini pada 2025 mencapai sekitar 311 ton per hari. Kepala seksi Pengurangan Sampah Dinas Lingkungan Hidup Kota Mataram, I Made Wibisana Gunaksa, menyebut lebih dari 70 persen sampah tersebut masih bergantung pada TPA.

“Dari 311 ton itu, lebih dari 70 persen masih mengandalkan TPA. Hanya sekitar 28 persen yang bisa dikelola oleh masyarakat dan pemerintah kota. Ini menjadi pekerjaan rumah bersama,” kata Wibisana.

Ia menambahkan, pengelolaan sampah dari tingkat awal juga penting untuk menekan emisi gas rumah kaca, terutama metana dari timbunan sampah di TPA. Pengolahan sampah, kata dia, menjadi langkah nyata dalam menghadapi dampak perubahan iklim.

Sementara itu, Ketua Pokdarwis bagek Kembar H. Sukendi menyambut baik pendampingan yang digelar PLN EPI dan PT Pelayaran Bahtera Adhiguna. Ia menilai program itu membantu warga dan pelaku wisata menjaga kebersihan pantai sekaligus membuka peluang ekonomi baru.

“Program ini sangat membantu masyarakat dan pelaku wisata di kawasan pesisir. Kami berharap edukasi dan pendampingan seperti ini terus berlanjut agar masyarakat semakin sadar bahwa sampah yang dikelola dengan baik dapat menjaga lingkungan sekaligus memberikan nilai ekonomi,” kata Sukendi.Program tersebut juga menjadi bagian dari penerapan prinsip environmental,social,and governance atau ESG,dengan penekanan pada pengurangan emisi,penguatan ekonomi sirkular,dan pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah operasional.