Tutup
EkonomiPerbankan

India Ajukan Permintaan Impor Pupuk dari Indonesia

97
×

India Ajukan Permintaan Impor Pupuk dari Indonesia

Sebarkan artikel ini
dubes-india-telepon-mentan-amran-minta-pasokan-pupuk-500-ribu-ton
Dubes India Telepon Mentan Amran Minta Pasokan Pupuk 500 Ribu Ton

Jakarta – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkapkan adanya minat besar dari India untuk mengimpor 500 ribu ton pupuk urea asal Indonesia. Permintaan tersebut disampaikan langsung oleh Duta Besar India di tengah kondisi pasokan pupuk dunia yang tengah mengetat.

Amran menyatakan pemerintah tidak akan terburu-buru menyetujui permintaan tersebut. Pihaknya akan mengkaji penawaran harga agar mendapatkan nilai yang paling menguntungkan bagi negara.

“Rencana duta besar India telepon saya langsung meminta 500 ribu ton, nanti kita lihat mana harga paling menguntungkan,” ujar Amran dalam konferensi pers di Jakarta Selatan, Selasa (19/5).

Selain India, sejumlah negara lain seperti Filipina, Brasil, dan Pakistan juga mulai melirik pasokan pupuk dari Indonesia. Sebelumnya, Indonesia telah sukses menjalin kesepakatan ekspor pupuk ke Australia dengan nilai mencapai Rp7 triliun.

Meski permintaan ekspor melonjak, Amran memastikan kebutuhan petani dalam negeri tetap menjadi prioritas utama pemerintah. Ia menjamin stok pupuk nasional dalam kondisi surplus sehingga kegiatan ekspor dipastikan tidak akan mengganggu ketersediaan domestik.

“Total kita produksi kurang lebih 10 juta ton, aman kita penuhi dulu dalam negeri baru kita ekspor,” tegasnya. Pemerintah bahkan telah menyiapkan cadangan surplus sekitar 1,5 juta ton untuk mengamankan kebutuhan nasional hingga akhir tahun.

Di sisi lain, pemerintah juga berupaya menjaga daya beli petani melalui penurunan harga pupuk subsidi sebesar 20 persen. Langkah ini diambil sebagai antisipasi terhadap gejolak harga pupuk global akibat konflik geopolitik dan gangguan rantai pasok dunia.

Selain pupuk, komoditas beras Indonesia juga mulai diminati pasar internasional. Malaysia tercatat telah menjalin komunikasi intensif dengan pemerintah melalui Perum Bulog terkait rencana pembelian beras.

Menanggapi berbagai tawaran ekspor tersebut, Presiden Prabowo Subianto telah menginstruksikan agar setiap kebijakan dilakukan dengan sangat hati-hati. Stabilitas pangan nasional tetap menjadi prioritas utama agar petani lokal tidak dirugikan di tengah ancaman krisis pangan dunia.