Tutup
TeknologiTelekomunikasi

Operator Telekomunikasi Mengoptimalkan Efisiensi Energi Hadapi Lonjakan Data

112
×

Operator Telekomunikasi Mengoptimalkan Efisiensi Energi Hadapi Lonjakan Data

Sebarkan artikel ini
di-balik-internet-cepat-ri-ada-konsumsi-energi-yang-besar,-wilayah-ini-juaranya
Di Balik Internet Cepat RI Ada Konsumsi Energi yang Besar, Wilayah Ini Juaranya

Jakarta – Pesatnya gaya hidup digital dan konsumsi konten video streaming di Indonesia berdampak langsung pada lonjakan kebutuhan energi di sektor telekomunikasi. Operator seluler terus mengejar kebutuhan trafik data dengan memperluas infrastruktur Base Transceiver Station (BTS), yang secara otomatis memicu kenaikan konsumsi listrik jaringan secara signifikan.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mencatat konsumsi energi jaringan seluler nasional mencapai 14,7 GWh per hari atau setara 5,4 TWh dalam setahun. Pulau Jawa menjadi penyumbang beban pemakaian terbesar dengan porsi mencapai 51 persen dari total kebutuhan energi nasional.

Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Telekomunikasi BRIN, Mochamad Mardi Marta Dinata, menyoroti beban operasional yang kian berat akibat konsumsi energi tersebut. Ia membeberkan bahwa sekitar 20 persen biaya operasional operator ludes untuk menutupi kebutuhan energi, di mana 90 persen di antaranya diserap oleh listrik BTS.

Mardi menegaskan bahwa efisiensi energi yang optimal bisa dicapai jika operator mampu memproduksi energi mandiri melalui sumber terbarukan. Menurutnya, pemanfaatan sistem hibrida yang memadukan panel surya, baterai, dan generator menjadi kunci strategis guna menekan biaya sekaligus menjawab tantangan dekarbonisasi industri.

Penelitian ini dilakukan dengan menganalisis data dari 8.500 BTS yang tersebar di wilayah Jakarta, Banten, dan Jawa Barat. Tim peneliti menggunakan 40 sampel site yang merepresentasikan berbagai tipe infrastruktur, mulai dari Macro, Micro, Pico, hingga In-Building System (IBS) sebagai dasar pemodelan kebutuhan energi makro.

Kehadiran pemodelan ini diharapkan mampu menjadi acuan krusial bagi operator dalam menyusun perencanaan jaringan jangka panjang yang lebih efisien. Mengingat belum adanya model berbasis stok BTS sebelumnya, kajian ini ditujukan untuk mempermudah langkah dekarbonisasi sektor telekomunikasi di masa mendatang.