NewsTeknologi

Indodax Perkuat Literasi Keamanan Digital Tekan Ancaman Penipuan Siber

106
×

Indodax Perkuat Literasi Keamanan Digital Tekan Ancaman Penipuan Siber

Sebarkan artikel ini
3-kebiasaan-sederhana-agar-tak-jadi-korban-phishing
3 Kebiasaan Sederhana agar Tak Jadi Korban Phishing

Jakarta – Kejahatan siber di Indonesia kini mengalami pergeseran modus yang mengkhawatirkan. Alih-alih membobol sistem yang rumit, pelaku kini lebih sering memanfaatkan kelengahan pengguna untuk mencuri data pribadi.

CEO Indodax, William Sutanto, mengungkapkan bahwa manipulasi psikologis atau social engineering menjadi senjata utama bagi para penipu. Banyak pengguna tanpa sadar memberikan akses akun hingga kode OTP melalui tautan atau nomor palsu yang disediakan pelaku.

“Saat ini pelaku kejahatan tidak selalu berusaha membobol sistem yang kompleks. Mereka justru mencari cara yang lebih mudah, yaitu memanipulasi pengguna,” ujar William di Jakarta, Kamis (4/6/2026).

Salah satu modus yang marak adalah penyalahgunaan mesin pencari. Pelaku kerap memasang nomor layanan pelanggan palsu hingga situs tiruan yang dibuat sangat mirip dengan kanal resmi perusahaan.

Masyarakat sering terkecoh karena situs-situs penipu tersebut muncul di urutan teratas mesin pencari. Padahal, posisi di daftar teratas tidak menjamin keaslian sebuah situs atau layanan.

Data Tiger Research mencatat bahwa social engineering menjadi penyebab utama 74,7 persen kerugian siber di industri Web3 pada kuartal pertama 2026. Angka ini melonjak tajam dibandingkan tahun 2025 yang berada di level 64,3 persen.

Secara nasional, ancaman siber juga menunjukkan tren peningkatan yang sangat masif. Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) melaporkan terdapat 5,5 miliar serangan siber sepanjang 2025, atau melonjak 7 kali lipat dibandingkan rata-rata tahunan periode 2020 hingga 2024.

Dampak finansial dari fenomena ini pun sangat besar bagi masyarakat. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Indonesia Anti-Scam Center (IASC) mencatat total kerugian akibat penipuan transaksi keuangan mencapai Rp9,1 triliun dari awal 2024 hingga Januari 2026.

Menanggapi situasi ini, William mendesak masyarakat untuk lebih kritis dalam memverifikasi setiap informasi digital. Ia mengingatkan pengguna agar selalu mengakses website resmi dan hanya menggunakan kanal komunikasi resmi yang telah disediakan perusahaan.

“Oleh karena itu kami mengajak masyarakat untuk tidak hanya mencari, tetapi juga memverifikasi. Pastikan selalu mengakses website resmi dan menggunakan kanal komunikasi resmi,” tegasnya.