Bursa Saham

Saham Emiten CPO Menguat, Simak Rekomendasi dan Prospeknya Hari Ini

1
×

Saham Emiten CPO Menguat, Simak Rekomendasi dan Prospeknya Hari Ini

Sebarkan artikel ini
Grafik pergerakan harga saham emiten kelapa sawit yang sedang mengalami tren kenaikan di bursa efek
Sektor saham emiten kelapa sawit mencatatkan penguatan signifikan sepanjang Juli 2026.

JAKARTA – Sektor saham emiten kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) mencatatkan tren penguatan signifikan sepanjang Juli 2026. Kenaikan harga saham ini dipicu oleh sentimen positif kebijakan biodiesel B50 serta stabilnya harga komoditas global.

Berdasarkan data RTI per Rabu (29/7/2026) pukul 10.05 WIB, sejumlah emiten mencatatkan kenaikan harga saham yang impresif dalam sebulan terakhir. PT Prime Agri Resources Tbk (SGRO) memimpin dengan kenaikan 19,85%, diikuti PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) sebesar 18,92%.

Selain itu, PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) mencatat penguatan 14,54%, PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) naik 8,79%, dan PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) tumbuh 5,06%. Tren positif ini searah dengan penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mencatatkan kenaikan 8,64% secara month-to-date di bulan Juli.

Analis menilai penguatan ini didorong oleh kombinasi faktor fundamental dan sentimen pasar. Dari sisi fundamental, harga CPO global yang bertahan di level menguntungkan memicu ekspektasi kenaikan margin profitabilitas emiten perkebunan.

Penurunan stok sawit nasional akibat tingginya konsumsi domestik dan ekspor turut menjadi katalis pendukung harga. Faktor eksternal seperti eskalasi konflik di Timur Tengah juga menjaga harga CPO global tetap berada di level MYR4.673 per ton, atau naik 15,38% secara year-to-date.

Kebijakan mandatori biodiesel B50 menjadi sentimen kunci yang meningkatkan optimisme pasar terhadap peningkatan permintaan domestik. Meski demikian, efektivitas kebijakan ini tetap bergantung pada dinamika harga energi dan skema subsidi yang ditetapkan pemerintah.

Prospek kinerja emiten CPO hingga akhir tahun 2026 dinilai masih cukup positif. Keberhasilan menjaga biaya produksi di tengah average selling price (ASP) yang tinggi menjadi ruang bagi emiten untuk terus mempertahankan pertumbuhan laba.

Emiten seperti DSNG dan TAPG dinilai memiliki keunggulan kompetitif berkat produktivitas tandan buah segar (TBS) yang mencapai di atas 20 ton per hektare. Hal ini memberikan daya tarik lebih bagi investor di tengah fluktuasi pasar.

Beberapa analis merekomendasikan strategi beli untuk saham sektor ini dengan target harga yang disesuaikan. Salah satunya adalah saham TAPG yang diproyeksikan mencapai level Rp2.100 per lembar saham.

Namun, investor tetap diingatkan untuk mewaspadai potensi aksi ambil untung atau profit taking. Koreksi pasar dapat terjadi jika produksi musiman meningkat atau permintaan global mengalami pelemahan di semester kedua tahun ini.

Secara keseluruhan, sektor CPO diperkirakan akan tetap menguat seiring dengan implementasi penuh B50 dan potensi dampak El NiƱo yang dapat memengaruhi pasokan. Tren ini menjadikan emiten sawit sebagai salah satu fokus utama dalam rotasi sektor saham di pasar modal Indonesia.