Valuta

Rupiah Melemah Pasca Keputusan Suku Bunga BI, Simak Proyeksi Hari Ini

42
×

Rupiah Melemah Pasca Keputusan Suku Bunga BI, Simak Proyeksi Hari Ini

Sebarkan artikel ini
Tampilan layar pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat di monitor keuangan
Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar AS pasca keputusan suku bunga Bank Indonesia.

JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali tertekan pada perdagangan Rabu (22/7/2026). Mata uang Garuda ditutup melemah 0,16% ke level Rp17.917 per dolar AS dibandingkan penutupan hari sebelumnya di posisi Rp17.888 per dolar AS.

Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia mencatat posisi stagnan. Rupiah berada di level Rp17.909 per dolar AS, tidak menunjukkan perubahan signifikan dibandingkan penutupan perdagangan sehari sebelumnya.

Pelemahan ini dipicu oleh sentimen domestik terkait keputusan Bank Indonesia (BI) dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulan Juli 2026. BI resmi mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate tetap berada di level 5,75%.

Selain BI-Rate, otoritas moneter turut menjaga suku bunga Deposit Facility di level 4,75%. Sementara itu, Lending Facility tetap ditetapkan sebesar 6,5%.

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai keputusan menahan suku bunga tersebut direspons pasar dengan sikap antisipatif. BI kini fokus mendorong kebijakan insentif untuk menarik arus modal asing ke pasar uang domestik.

Langkah ini bertujuan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global. BI berupaya meningkatkan likuiditas serta mempercepat pendalaman pasar uang dan valuta asing.

Dari sisi fiskal, pasar turut memantau perkembangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga akhir Juni 2026. Defisit anggaran tercatat mencapai Rp196,5 triliun atau sekitar 0,76% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Pendapatan negara hingga periode tersebut mencapai Rp1.459,4 triliun atau 46,3% dari target tahunan. Di sisi lain, realisasi belanja negara telah menyentuh angka Rp1.656 triliun atau 43,1% dari pagu yang ditetapkan.

Secara eksternal, tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, masih bersumber dari eskalasi konflik di Timur Tengah. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran terus memicu kekhawatiran global.

Laporan menyebutkan pasukan AS telah menyerang sejumlah target militer Iran. Sebagai respons, Teheran melancarkan serangan balik ke berbagai posisi militer AS di Bahrain, Kuwait, dan Yordania.

Pasar kini mengantisipasi arah kebijakan moneter bank sentral AS, The Fed. Gangguan pasokan minyak akibat konflik di kawasan Teluk berpotensi memicu inflasi tinggi di AS.

Kondisi tersebut memperkuat spekulasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Data Prime Terminal menunjukkan probabilitas 78% The Fed akan menahan suku bunga pada pertemuan mendatang.

Selain itu, terdapat peluang sebesar 68% mengenai potensi kenaikan suku bunga pada September mendatang. Hal ini menambah tekanan bagi mata uang negara berkembang terhadap dolar AS.

Untuk perdagangan Kamis (23/7/2026), nilai tukar rupiah diproyeksikan masih berada dalam tren pelemahan. Mata uang domestik diperkirakan bergerak dalam rentang Rp17.920 hingga Rp18.970 per dolar AS.