Energi

Elektrifikasi Jadi Kunci Utama Percepat Transisi Energi di ASEAN

139
×

Elektrifikasi Jadi Kunci Utama Percepat Transisi Energi di ASEAN

Sebarkan artikel ini

JENEWA – Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum/WEF) menegaskan bahwa percepatan elektrifikasi menjadi faktor krusial dalam mencapai target iklim serta menjamin ketahanan energi di kawasan Asia Tenggara atau ASEAN. Langkah ini dinilai mendesak seiring dengan meningkatnya permintaan listrik secara signifikan, di tengah menipisnya cadangan bahan bakar fosil dan tingginya risiko geopolitik yang mengancam stabilitas pasokan energi regional.

Data WEF mencatat, permintaan listrik di ASEAN melonjak lebih dari 60% sepanjang periode 2015 hingga 2025. Pertumbuhan ini dipicu oleh akselerasi industrialisasi, urbanisasi, digitalisasi, serta kebutuhan fasilitas pendingin ruangan yang kian meningkat. Proyeksi ke depan menunjukkan tren serupa, dengan kebutuhan listrik di kawasan ini diperkirakan terus tumbuh sebesar 4% setiap tahun hingga 2035.

Ketergantungan terhadap sumber daya minyak dan gas domestik yang kian menipis, khususnya di Indonesia dan Malaysia, memaksa kawasan ini untuk bersiap menjadi importir gas bersih di masa depan. Kondisi ini mempertegas urgensi pengembangan sistem energi terbarukan domestik. Asia Tenggara sendiri memiliki potensi energi surya dan angin yang sangat besar, mencapai 20 Terawatt, yang hingga saat ini belum dimanfaatkan secara optimal.

WEF menekankan bahwa elektrifikasi bersih merupakan jalur utama yang mampu menyelaraskan keamanan energi dengan target transisi jangka panjang. Untuk merealisasikannya, diperlukan sistem ketenagalistrikan yang tangguh dan saling terhubung antarnegara. Jaringan listrik yang modern dan terintegrasi dianggap memiliki urgensi yang sama tingginya dengan pembangunan pembangkit listrik itu sendiri.

Peningkatan porsi energi terbarukan dalam bauran energi nasional menuntut sistem yang jauh lebih fleksibel. Modernisasi jaringan dan peningkatan operasional sistem menjadi syarat mutlak agar pasokan tetap stabil. Tanpa perencanaan dan koordinasi sistem yang kuat, laju adopsi energi terbarukan berisiko melampaui kapasitas infrastruktur tenaga listrik yang ada saat ini.

Belajar dari pengalaman Tiongkok, integrasi energi terbarukan skala besar sangat bergantung pada perencanaan jaringan yang terkoordinasi, transmisi yang kokoh, serta investasi masif pada teknologi penyimpanan energi seperti baterai. Hal ini menjadi catatan penting bagi negara-negara ASEAN dalam merancang strategi transisi mereka.

Lebih jauh, WEF mendorong penguatan koordinasi di tingkat regional untuk berbagi beban dan efisiensi. Mengingat perbedaan karakteristik sumber daya dan pola kebutuhan listrik di tiap negara, kerja sama lintas batas menjadi kunci. Model seperti Southern African Power Pool, yang menerapkan interkoneksi bertahap, dapat menjadi referensi bagi ASEAN untuk meningkatkan keandalan sistem.

Transformasi ini kini mulai terlihat melalui pergeseran dari pertukaran listrik bilateral menuju multilateral yang lebih terstruktur. Nota Kesepahaman Enhanced ASEAN Power Grid yang disepakati pada 2025 menjadi tonggak penting dalam mempromosikan perdagangan listrik multilateral dan perencanaan sistem yang terpadu. Saat ini, terdapat lebih dari 18 interkoneksi lintas batas yang telah memfasilitasi integrasi energi di kawasan tersebut.

Inisiatif regional lainnya, seperti ASEAN Power Grid Financing Initiative dan Greater Mekong Subregion Economic Cooperation Frameworks, turut memperkuat fondasi kolaborasi. Dukungan dari lembaga keuangan internasional seperti Asian Development Bank (ADB) dan Bank Dunia juga berperan dalam penyediaan pendanaan infrastruktur serta peningkatan kapasitas desain pasar tenaga listrik. WEF melalui Initiative Future of Power Systems terus mendampingi para pemangku kepentingan untuk mengidentifikasi jalur transisi yang paling sesuai dengan karakteristik unik wilayah Asia Tenggara.