Bursa Saham

Wall Street Dibuka Variatif: S&P 500 dan Nasdaq Menguat, Dow Tertekan

43
×

Wall Street Dibuka Variatif: S&P 500 dan Nasdaq Menguat, Dow Tertekan

Sebarkan artikel ini

NEW YORK – Bursa saham Wall Street dibuka dengan pergerakan yang variatif pada Kamis (9/7/2026), di tengah tekanan ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang kembali memanas. Indeks S&P 500 dan Nasdaq Composite mencatatkan kenaikan tipis, sementara Dow Jones Industrial Average terkoreksi di awal sesi perdagangan.

Indeks S&P 500 dibuka menguat 8,9 poin atau 0,12% ke level 7.491,6. Nasdaq Composite juga bergerak positif dengan kenaikan 47,7 poin atau 0,18% ke posisi 25.918,311.

Sebaliknya, indeks Dow Jones Industrial Average justru dibuka melemah 98,9 poin atau 0,19% menjadi 52.249,44. Pasar saham merespons situasi keamanan global yang kembali tidak menentu akibat eskalasi militer di Timur Tengah.

Militer AS dilaporkan melakukan serangan baru terhadap Iran guna memastikan keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz. Hal ini memicu balasan dari Iran terhadap aset-aset strategis AS yang berada di Kuwait dan Bahrain.

Presiden Donald Trump menyatakan bahwa gencatan senjata sementara saat ini telah berakhir. Namun, ia berusaha menenangkan pasar dengan menegaskan bahwa perang skala penuh tidak diharapkan terjadi.

Di tengah sentimen negatif tersebut, sektor saham chip memberikan dukungan signifikan bagi pasar. ETF iShares Semiconductor terpantau naik sebesar 4,4% dalam perdagangan pra-pasar.

Pemulihan saham chip ini menjadi penyeimbang di tengah kekhawatiran investor terhadap keberlanjutan reli saham berbasis kecerdasan buatan (AI). Selama beberapa sesi terakhir, sektor teknologi mengalami tekanan jual yang cukup kuat.

Saham IBM dan Microsoft tercatat melemah masing-masing sebesar 4,5% dan 1,5%. Penurunan ini dipicu oleh laporan bahwa Starbucks mulai mengurangi ketergantungan pada teknologi dari kedua perusahaan tersebut.

Tekanan juga melanda saham sektor perangkat lunak lainnya seperti ServiceNow dan Adobe. Masing-masing saham tersebut mencatatkan penurunan sebesar 4,3% dan 3,5%.

Meta Platforms turut mengalami koreksi sebesar 4% setelah beredar kabar terkait rencana pengembangan chip AI internal. Langkah ini dinilai investor akan mengubah peta persaingan di industri semikonduktor.

Dari data domestik AS, jumlah klaim tunjangan pengangguran mingguan menunjukkan penurunan yang signifikan. Kondisi ini mengindikasikan bahwa pasar tenaga kerja AS masih tetap stabil di tengah perlambatan pertumbuhan lapangan kerja pada Juni.

Sementara itu, kebijakan moneter Federal Reserve tetap menjadi perhatian utama pelaku pasar. Risalah rapat bulan Juni menunjukkan adanya perdebatan di antara pembuat kebijakan mengenai potensi kenaikan suku bunga.

Data LSEG mencatat bahwa para pedagang saat ini mengantisipasi setidaknya satu kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin hingga akhir tahun. Hal ini terjadi meskipun suku bunga saat ini masih dipertahankan pada level yang sama.

Reaksi pasar juga terlihat pada saham emiten individu yang merilis laporan kinerja keuangan. Levi Strauss turun 4% meskipun telah menaikkan proyeksi penjualan tahunan mereka.

PepsiCo juga mencatatkan penurunan saham sebesar 2% meskipun pendapatan kuartal kedua melampaui estimasi analis. Ketidakpastian geopolitik tampaknya memicu aksi ambil untung oleh para investor.