JAKARTA – Sektor industri kemasan nasional diproyeksikan tetap mencatatkan pertumbuhan sebesar 5% hingga 6% secara tahunan pada 2026. Proyeksi ini bertahan meski pelaku usaha saat ini tengah menghadapi tekanan biaya produksi yang tinggi serta ketidakpastian permintaan pasar.
Direktur Eksekutif Indonesian Packaging Federation (IPF) Henky Wibawa menyatakan bahwa konsumsi rumah tangga tetap menjadi motor utama bagi ekspansi industri ini. Kontribusi konsumsi yang mencapai lebih dari 50% terhadap produk domestik bruto (PDB) menjadi penopang utama stabilitas pasar.
Pertumbuhan sektor e-commerce serta implementasi program pangan nasional turut memberikan dorongan signifikan terhadap permintaan kemasan. Program pangan tersebut mencakup penyediaan sekitar 190 juta porsi makanan setiap hari yang secara langsung meningkatkan kebutuhan kemasan makanan dan minuman.
Di sisi lain, industri kemasan masih dibayangi oleh dampak krisis pasokan nafta global yang sempat memicu lonjakan harga biji plastik hingga 200%. Meskipun harga bahan baku saat ini mulai menunjukkan tren penurunan, pelaku industri masih menanggung beban biaya input produksi yang cukup tinggi.
Kondisi tersebut diperparah oleh tekanan terhadap daya beli masyarakat yang membuat permintaan pasar menjadi lebih selektif. Akibatnya, sebagian besar pelaku industri memilih untuk menunda rencana ekspansi kapasitas produksi dalam waktu dekat.
Strategi utama yang kini diterapkan oleh para pelaku usaha adalah memprioritaskan efisiensi operasional guna menjaga daya saing. Penyesuaian volume produksi dilakukan secara cermat untuk mengantisipasi ketidakpastian harga bahan baku dan fluktuasi pasar.
Selain tantangan ekonomi, industri kemasan kini dihadapkan pada kewajiban adaptasi terhadap kebijakan lingkungan yang lebih ketat. Penerapan Extended Producer Responsibility (EPR) dan regulasi pengurangan plastik sekali pakai menuntut investasi tambahan dari sisi teknologi dan proses produksi.
Adaptasi terhadap aturan baru ini dinilai tidak mudah bagi pelaku industri karena memerlukan penyesuaian model bisnis secara menyeluruh. Hal ini menjadi salah satu faktor yang membatasi laju pertumbuhan industri dibandingkan ekspektasi awal tahun.
Merespons tantangan tersebut, IPF berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk menciptakan iklim usaha yang lebih kondusif. Stabilisasi harga energi dan bahan baku menjadi kebutuhan mendesak agar biaya produksi tetap terkendali.
Pelaku industri juga mengharapkan adanya insentif investasi yang spesifik untuk pengembangan teknologi daur ulang serta material ramah lingkungan. Dukungan ini dianggap krusial untuk mempercepat transisi industri menuju praktik ekonomi sirkular.
Selain itu, konsistensi pemerintah dalam mengimplementasikan regulasi EPR sangat diperlukan untuk memberikan kepastian hukum bagi para investor. Kepastian regulasi akan mempermudah pelaku usaha dalam menyusun rencana investasi jangka panjang yang lebih terukur.
Peningkatan infrastruktur logistik nasional juga menjadi poin penting yang diharapkan dapat memperkuat rantai pasok domestik. Perbaikan akses logistik diyakini mampu meningkatkan daya saing produk kemasan nasional di tengah persaingan pasar yang semakin ketat.







