Energi

Indonesia Tawarkan Investasi Proyek PLTS 100 GW kepada Cina

68
×

Indonesia Tawarkan Investasi Proyek PLTS 100 GW kepada Cina

Sebarkan artikel ini
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto saat mempromosikan investasi PLTS 100 GW kepada investor China.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menawarkan investasi proyek PLTS 100 GW kepada perusahaan asal China.

SHANGHAI – Pemerintah Indonesia secara resmi mengajak perusahaan-perusahaan asal China untuk menanamkan modal dalam pengembangan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt (GW). Ajakan ini disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto guna mengakselerasi target transisi energi nasional.

Proyek ambisius ini merupakan bagian dari agenda prioritas Presiden Prabowo Subianto dalam mendukung hilirisasi industri dan swasembada energi. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menargetkan kapasitas 100 GW tersebut dapat terealisasi sepenuhnya pada tahun 2029.

Airlangga menyampaikan tawaran investasi tersebut dalam pertemuan bilateral dengan Menteri Perdagangan China, Wang Wentao, di Shanghai pada Jumat (17/7). Kerja sama ini diproyeksikan tidak hanya sebatas pendanaan, tetapi juga penguatan rantai pasok industri panel surya yang terintegrasi di dalam negeri.

Pemerintah Indonesia menilai keberhasilan proyek PLTS Terapung Cirata menjadi bukti nyata potensi kolaborasi kedua negara dalam pengembangan energi bersih. Ke depan, penguatan industri panel surya domestik menjadi kunci utama dalam mendukung target penurunan emisi karbon nasional.

Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak juga membahas penguatan kerja sama ekonomi melalui skema Two Countries Twin Parks (TCTP). Sejauh ini, sebanyak 30 nota kesepahaman dengan estimasi nilai investasi mencapai Rp37,1 triliun telah disepakati.

Airlangga menekankan pentingnya menindaklanjuti nota kesepahaman tersebut menjadi proyek investasi yang konkret. Pemerintah mendorong pembentukan usaha patungan atau joint venture antara pelaku usaha Indonesia dan China untuk mempercepat implementasi kerja sama.

China saat ini tercatat sebagai mitra dagang terbesar sekaligus salah satu dari tiga sumber penanaman modal asing utama bagi Indonesia. Pada 2025, realisasi investasi China mencapai 8,1 miliar dolar AS, mencakup sektor industri pengolahan, energi, properti, hingga transportasi.

Data mencatat nilai perdagangan bilateral kedua negara pada 2025 mencapai 154,6 miliar dolar AS. Tren pertumbuhan rata-rata perdagangan antara Indonesia dan China selama periode 2021-2025 tercatat sebesar 7,24 persen.

Di bidang perdagangan, Indonesia terus mendorong hubungan yang lebih seimbang melalui perluasan akses pasar. Pemerintah juga menekankan pentingnya peningkatan ekspor produk bernilai tambah serta penguatan hilirisasi industri.

Kehadiran Danantara Indonesia diharapkan dapat berperan sebagai mitra strategis dalam menarik investasi berkualitas. Lembaga ini diproyeksikan mampu memperkuat kapasitas produksi nasional dan mendukung terciptanya lapangan kerja baru.

Terkait kerja sama regional, Indonesia meminta dukungan China untuk menempatkan Sekretariat Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) di Indonesia. Pemerintah juga mendorong penguatan agenda RCEP 3.0 agar tetap relevan dengan dinamika perdagangan global.

Menjelang APEC 2026 di China, Indonesia menyatakan komitmen untuk mendukung keketuaan Negeri Tirai Bambu tersebut. Kedua negara diharapkan dapat mengidentifikasi proyek prioritas yang akan diumumkan pada pertemuan para pemimpin negara.

Airlangga memastikan pemerintah akan terus menjaga kepastian kebijakan dan menciptakan iklim investasi yang kondusif. Langkah ini diambil guna menjamin manfaat yang seimbang dan saling menguntungkan bagi kedua negara.