JAKARTA – Prospek saham PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) dinilai tetap menarik di mata pelaku pasar, meskipun pemerintah berencana menerapkan kebijakan pembatasan harga gas berbasis liquefied natural gas (LNG). Kebijakan ini merupakan respons atas tingginya harga gas industri yang sempat menyentuh angka US$ 20-21 per mmbtu pada Juni 2026.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berencana menurunkan harga gas industri non-subsidi menjadi US$ 13 per mmbtu secara nasional. Langkah ini diambil untuk menekan beban biaya operasional sektor industri yang terbebani lonjakan harga minyak global pada Maret lalu.
Analis UBS Sekuritas Indonesia menyatakan bahwa dampak kebijakan pembatasan harga tersebut terhadap kinerja PGAS tidak akan seburuk yang dikhawatirkan. Kebijakan ini bersifat sementara dan hanya berlaku selama enam bulan, yakni mulai Juli hingga Desember 2026.
Pemerintah menegaskan bahwa beban penurunan harga akan ditanggung bersama oleh seluruh rantai pasok. Mekanisme ini mencakup penyesuaian porsi penerimaan pemerintah di sektor hulu, harga jual gas hulu, serta biaya pengolahan dan infrastruktur.
Hingga saat ini, regulasi resmi mengenai pembagian beban tersebut masih dalam tahap penantian. Analis JP Morgan Sekuritas Indonesia memproyeksikan bahwa penjualan LNG akan menyumbang sekitar 20% dari total volume gas PGAS pada 2026.
Kontribusi penjualan LNG tersebut diperkirakan meningkat menjadi 40% pada 2027. Analis memperkirakan penurunan harga akan dilakukan melalui kombinasi penurunan harga di sektor hulu dan pemangkasan margin distribusi PGAS.
Jika skenario pembagian beban antara hulu dan hilir berjalan seimbang, potensi penurunan laba per saham (EPS) PGAS diperkirakan berada di kisaran 9% pada 2026. Sementara itu, untuk tahun 2027, potensi penurunan laba diperkirakan mencapai 22%.
Di sisi lain, valuasi PGAS saat ini dinilai masih cukup murah bagi perusahaan utilitas dengan bisnis teregulasi. Saham emiten ini diperdagangkan pada valuasi 1,9 kali EV/EBITDA dan 0,95 kali nilai buku (price to book value).
Posisi kas bersih PGAS diprediksi terus menguat hingga mencapai Rp 25 triliun pada 2028. Jumlah tersebut mencerminkan lebih dari separuh nilai kapitalisasi pasar perusahaan saat ini.
Secara fundamental, pendapatan PGAS diproyeksikan mencapai US$ 4,197 miliar pada 2026. Angka tersebut menunjukkan pertumbuhan sebesar 5,6% secara tahunan dibandingkan realisasi tahun 2025.
Laba bersih perusahaan juga diprediksi meningkat signifikan menjadi US$ 290 juta pada 2026. Proyeksi ini mencerminkan kenaikan sekitar 34,9% dibandingkan capaian laba bersih tahun sebelumnya sebesar US$ 215 juta.
Melihat kondisi tersebut, sejumlah analis memberikan rekomendasi beli terhadap saham PGAS. Target harga yang ditetapkan bervariasi mulai dari Rp 1.960 hingga Rp 2.200 per saham.






