NEW YORK – Bursa saham Amerika Serikat (Wall Street) dibuka menguat pada perdagangan Senin (20/7/2026), dipicu oleh aksi beli investor pada saham-saham sektor semikonduktor yang sempat tertekan pada pekan lalu.
Indeks Dow Jones Industrial Average mencatatkan kenaikan tipis 8,2 poin atau 0,02% ke level 52.154,57. Indeks S&P 500 menguat 31,5 poin atau 0,42% menjadi 7.489,18, sementara Nasdaq Composite naik 200,6 poin atau 0,79% ke posisi 25.720,87.
Pemulihan ini terjadi di tengah antisipasi pasar terhadap gelombang laporan keuangan dari perusahaan teknologi berkapitalisasi besar. Kinerja perusahaan-perusahaan ini menjadi krusial karena selama ini menjadi motor utama reli pasar saham berbasis kecerdasan buatan (AI).
Pekan ini, sejumlah raksasa teknologi seperti Alphabet, Tesla, Intel, dan IBM dijadwalkan merilis kinerja keuangan kuartal II-2026. Pelaku pasar secara khusus memantau laporan dari Intel dan Texas Instruments untuk mengukur ketahanan sektor semikonduktor.
Optimisme investor didukung oleh data LSEG yang memproyeksikan laba perusahaan anggota S&P 500 tumbuh 26% secara tahunan pada kuartal kedua. Angka ini meningkat dari proyeksi awal yang berada di kisaran 23,7%.
Sebelumnya, sektor semikonduktor sempat mengalami tekanan hebat hingga Philadelphia SE Semiconductor Index sempat terkoreksi lebih dari 20% dari rekor puncaknya pada akhir Juni. Secara teknikal, penurunan tersebut menempatkan sektor ini ke dalam fase bear market.
Meskipun demikian, saham-saham produsen cip memori menunjukkan antusiasme pelaku pasar di awal pekan ini. Saham Western Digital, Seagate Technology, Micron Technology, dan SanDisk mencatatkan penguatan antara 3,7% hingga 4,7% pada sesi prapembukaan.
Analis Senior GuideStone Funds, Jack Herr, menyatakan bahwa ruang bagi pasar untuk melakukan kesalahan saat ini semakin sempit. Ekspektasi investor terhadap kinerja perusahaan pada paruh kedua tahun ini dinilai jauh lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya.
Di sisi kebijakan moneter, pasar masih mencermati langkah Federal Reserve terkait suku bunga acuan. Berdasarkan alat FedWatch milik CME Group, peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Juli hanya diperkirakan sebesar 12%.
Sementara itu, kemungkinan kenaikan suku bunga pada pertemuan September diprediksi mencapai sekitar 53%. Selain faktor makroekonomi, investor juga terus memantau dinamika geopolitik global, terutama konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Ketegangan geopolitik tersebut dinilai masih menjadi risiko yang berpotensi memengaruhi sentimen pasar di masa depan. Investor tetap bersikap waspada terhadap setiap perkembangan baru yang dapat memicu volatilitas harga saham.
Hingga saat ini, lonjakan belanja infrastruktur AI oleh perusahaan skala besar atau hyperscaler tetap menjadi pendorong utama reli pasar. Meski sempat terjadi koreksi, indeks-indeks utama Wall Street secara historis masih mencatatkan kenaikan signifikan sepanjang tahun ini.






