Bursa Saham

Prospek Saham Emiten Logistik di Tengah Ketegangan Selat Hormuz

86
×

Prospek Saham Emiten Logistik di Tengah Ketegangan Selat Hormuz

Sebarkan artikel ini
Kargo peti kemas di pelabuhan sebagai simbol tantangan sektor logistik akibat konflik di Selat Hormuz
Sektor logistik Indonesia menghadapi tantangan operasional akibat lonjakan harga minyak imbas ketegangan di Selat Hormuz.

JAKARTA – Sektor transportasi dan logistik di Indonesia menghadapi tantangan berat seiring dengan memanasnya konflik geopolitik di Selat Hormuz yang memicu lonjakan harga minyak dunia. Penutupan jalur krusial tersebut oleh Iran sejak 12 Juli 2026 telah menciptakan ketidakpastian operasional bagi emiten yang bergantung pada jalur perdagangan global.

Indeks sektor transportasi dan logistik (IDXTRANS) tercatat terkoreksi 14,16% secara year-to-date (YTD) hingga Senin (20/7/2026). Meskipun angka tersebut masih lebih baik dibandingkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang merosot 27,93% pada periode yang sama, tekanan terhadap emiten diperkirakan masih akan berlanjut hingga akhir tahun.

Kenaikan harga minyak mentah global secara langsung mendongkrak biaya bahan bakar kapal (bunker cost). Hal ini berdampak signifikan bagi perusahaan pelayaran internasional seperti PT Samudra Indonesia Tbk (SMDR) dan PT Temas Tbk (TMAS).

Selain lonjakan biaya operasional, pengalihan rute pelayaran akibat ketegangan di Selat Hormuz memperpanjang waktu tempuh atau lead time. Kondisi ini berpotensi mengganggu kelancaran arus logistik global yang menjadi tulang punggung pendapatan emiten pelayaran.

Sektor penerbangan menjadi kelompok yang paling rentan terhadap gejolak ini. Emiten seperti PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) dan PT AirAsia Indonesia Tbk (CMPP) menghadapi tekanan ganda dari kenaikan harga avtur dan depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Sebagian besar komponen biaya maskapai, mulai dari sewa pesawat hingga biaya perawatan, menggunakan mata uang dolar. Keterbatasan maskapai dalam menaikkan harga tiket akibat ketatnya persaingan pasar membuat margin keuntungan mereka terancam tergerus lebih dalam.

Di sisi lain, emiten logistik darat seperti PT Adi Sarana Armada Tbk (ASSA), PT Trimitra Trans Persada Tbk (BLOG), dan PT SAP Express Tbk (SAPX) juga menghadapi tantangan serupa. Kenaikan harga BBM domestik menjadi beban biaya yang sulit sepenuhnya dibebankan kepada konsumen akhir.

Meski demikian, prospek sektor ini dinilai masih tetap moderat dengan catatan selektivitas tinggi. Kuatnya konsumsi domestik serta pertumbuhan aktivitas belanja daring menjadi bantalan utama bagi volume logistik darat di tengah ketidakpastian global.

Data menunjukkan bahwa sepanjang Januari hingga Mei 2026, jumlah penumpang kereta api tumbuh 8,58% dan penumpang penyeberangan naik 8,78%. Selain itu, volume barang angkutan laut domestik juga mencatatkan pertumbuhan sebesar 2,73%.

Sebaliknya, sektor angkutan udara domestik masih menunjukkan pelemahan dengan penurunan jumlah penumpang sebesar 1,63%. Volume kargo udara bahkan tercatat merosot tajam hingga 11,72% selama lima bulan pertama tahun 2026.

Analis menyarankan investor untuk tetap fokus pada emiten dengan neraca keuangan yang sehat dan arus kas operasional yang positif. Kemampuan perusahaan dalam memiliki pricing power atau kekuatan untuk menyesuaikan harga di tengah inflasi biaya menjadi kunci utama ketahanan emiten.

Investor juga diimbau untuk membedakan strategi antar subsektor. Saham pelayaran dinilai berpotensi diuntungkan oleh kenaikan tarif angkut global, sementara saham maskapai saat ini lebih condong ke arah speculative trading mengingat risiko fundamental yang masih tinggi.