Manufaktur

Chandra Asri Kembangkan Pabrik Kimia Tahap II Senilai Rp 18 Triliun

85
×

Chandra Asri Kembangkan Pabrik Kimia Tahap II Senilai Rp 18 Triliun

Sebarkan artikel ini
Pekerja di area fasilitas pabrik kimia milik PT Chandra Asri Pacific Tbk
PT Chandra Asri Pacific Tbk memulai persiapan pengembangan pabrik kimia tahap II dengan nilai investasi Rp 18 triliun.

JAKARTA – PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) secara resmi memulai persiapan pengembangan pabrik kimia Chlor Alkali dan Ethylene Dichloride (CA-EDC) Tahap II. Proyek ekspansi strategis ini diperkirakan membutuhkan investasi mencapai Rp 18 triliun atau setara dengan US$ 1 miliar.

Pengembangan fasilitas tersebut akan dilaksanakan melalui anak usaha perseroan, PT Chandra Asri Alkali (CAA). Saat ini, CAA tengah merampungkan studi kelayakan sebagai langkah awal untuk memperkuat kapasitas produksi kimia dasar perusahaan.

Langkah ini merupakan kelanjutan dari pembangunan CA-EDC Tahap I yang kini telah mencapai progres konstruksi sebesar 72 persen per Juli 2026. Perseroan menargetkan integrasi ekosistem produksi yang lebih efisien guna meningkatkan keandalan pasokan bagi industri domestik.

Presiden Direktur dan CEO Chandra Asri Group, Erwin Ciputra, menyatakan bahwa proyek ini menjadi komitmen perusahaan dalam memperkuat fondasi industri kimia nasional. Integrasi infrastruktur distribusi dan sistem logistik menjadi fokus utama dalam pengembangan tahap kedua ini.

Fasilitas CA-EDC Tahap I sendiri menelan investasi sebesar US$ 800 juta dan dijadwalkan mulai beroperasi pada tahun fiskal 2027. Pembangunan tersebut mencakup sistem logistik terintegrasi serta fasilitas penyimpanan bahan baku.

Setelah beroperasi penuh, Tahap I diproyeksikan mampu memproduksi 827.000 ton soda kaustik cair serta 500.000 ton Ethylene Dichloride setiap tahunnya. Produksi soda kaustik ini diharapkan dapat menekan angka impor nasional dengan nilai potensi mencapai Rp 4,9 triliun.

Selain substitusi impor, produksi EDC dari fasilitas tersebut diarahkan untuk pasar ekspor. Potensi devisa yang dihasilkan dari ekspor EDC diperkirakan mencapai Rp 5 triliun per tahun.

Dari sisi ketenagakerjaan, proyek CA-EDC telah menyerap sekitar 3.000 tenaga kerja selama masa konstruksi. Fasilitas tersebut diproyeksikan membuka 250 lapangan kerja baru setelah beroperasi secara penuh pada tahun 2027 mendatang.

Di tengah upaya ekspansi tersebut, TPIA juga menghadapi kewajiban finansial jangka pendek. PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) mencatat bahwa obligasi perusahaan senilai Rp 361 miliar akan segera jatuh tempo pada September 2026.

Kondisi pasar saham menunjukkan TPIA saat ini diperdagangkan dengan valuasi yang relatif premium. Riset Phintraco Sekuritas mencatat price to book value (PBV) TPIA berada di angka 2,79 kali dan price to earnings ratio (PER) sebesar 18,61 kali.

Valuasi tersebut tercatat berada di atas rata-rata subsektor basic materials yang memiliki PBV 1,26 kali dan PER 10,72 kali. Meski demikian, Chandra Asri tetap fokus pada strategi jangka panjang untuk memperkuat posisinya dalam rantai pasok kimia regional.

Pengembangan ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam mendorong kemandirian industri melalui berbagai stimulus. Sebagaimana diketahui, pemerintah tengah menyiapkan paket stimulus ekonomi senilai Rp 6,26 triliun untuk semester II 2026 yang berfokus pada sektor vokasi dan industri.