Jakarta – Indonesia berhasil mengamankan komitmen investasi senilai US$10,2 miliar atau setara Rp173 triliun dari Korea Selatan (Korsel).
Kesepakatan ini dicapai saat kunjungan kerja Presiden Prabowo Subianto ke Negeri Ginseng baru-baru ini.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan,capaian ini melengkapi hasil kunjungan Prabowo sebelumnya ke Jepang.
Dari Jepang, Indonesia berhasil mengantongi komitmen investasi sebesar US$23,6 miliar atau sekitar Rp401 triliun.
“Hal ini artinya kunjungan bapak Presiden ke kedua negara Jepang dan Korea Selatan ini menghasilkan komitmen investasi sebesar Rp574 triliun,” ujar Airlangga, dikutip dari keterangan resmi, Jumat (5/4/2024).
airlangga meyakini, di tengah situasi geopolitik global saat ini, angka tersebut menunjukkan bahwa indonesia tetap menjadi tujuan investasi yang menarik bagi investor Jepang dan Korea.
“Jepang sendiri merupakan peringkat ketiga dari investasi dan perdagangan, Korea di peringkat ketujuh, dan ke depan, keduanya sangat berharap bahwa dengan Indonesia mempunyai sovereign wealth fund, maka Indonesia juga bisa menjadi co-invest,” jelasnya.
Kerja sama investasi dengan korsel meliputi berbagai sektor strategis.
Di antaranya energi dan transisi hijau, pengembangan tenaga surya, teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon (CCS), serta energi terbarukan.
Selain itu, kolaborasi juga diperluas ke sektor industri dan manufaktur.Termasuk pengembangan industri baja, baterai, transportasi ramah lingkungan, ekonomi digital, dan pengembangan Artificial Intelligence (AI).
Investasi juga menyasar sektor properti dan infrastruktur,seperti pengembangan kawasan Bumi Serpong Damai.
Serta penguatan kemitraan bisnis melalui kerja sama antara Kadin Indonesia dan Korea Chamber of commerce and Industry.Sementara itu, kerja sama investasi dengan Jepang mencakup sektor energi dan transisi energi, termasuk pengembangan minyak dan gas bumi dengan fokus pada Proyek Masela. Serta penguatan sektor industri dan hilirisasi.
Pemerintah, kata Airlangga, berkomitmen untuk terus menciptakan iklim investasi yang kondusif. Salah satunya melalui percepatan penyelesaian kendala (Debottlenecking) yang dihadapi pelaku usaha.







