JAKARTA – PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) secara agresif memperluas penetrasi pasar luar negeri guna mengompensasi pelemahan daya beli pada sektor domestik sepanjang tahun 2026. Strategi ekspansi ini menjadi tulang punggung perusahaan di tengah tantangan konsumsi yang masih selektif di dalam negeri.
Riset dari Binaartha Sekuritas dan INA Sekuritas menunjukkan porsi ekspor SIDO melonjak hingga 14% pada kuartal I-2026. Malaysia menjadi pasar ekspor terbesar dengan kontribusi 4%, diikuti oleh Nigeria dan Filipina yang masing-masing menyumbang 1% hingga 2%.
Perluasan jangkauan ke kawasan ASEAN dan Afrika kini telah ditetapkan sebagai salah satu dari tiga prioritas utama manajemen SIDO. Langkah diversifikasi geografis ini dinilai sebagai upaya strategis untuk memastikan keberlangsungan bisnis di tengah gejolak ekonomi.
Senior Market Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menyatakan bahwa produk herbal Indonesia kini mulai mendapatkan penerimaan yang lebih luas di pasar internasional. Upaya SIDO dalam menjangkau konsumen di luar negeri menunjukkan hasil positif sebagai instrumen penopang kinerja.
Kendati demikian, analis tetap memberikan catatan kritis terkait keterbatasan katalis pertumbuhan bagi emiten tersebut. Pemulihan kinerja perusahaan masih sangat bergantung pada normalisasi penjualan domestik serta efisiensi operasional yang ketat.
Direktur Utama PT Kiwoom Sekuritas Indonesia, Chang-kun Shin, menekankan bahwa tantangan utama terletak pada daya beli masyarakat yang belum pulih sepenuhnya. Keberhasilan perusahaan ke depan sangat ditentukan oleh kemampuannya dalam menjaga keseimbangan antara pasar ekspor dan domestik.
Data menunjukkan total penjualan SIDO pada kuartal I-2026 terkoreksi 18,8% secara tahunan (YoY) menjadi Rp 640,5 miliar. Penurunan ini dipicu oleh kebijakan penyesuaian inventaris distributor atau sell-in reset yang dilakukan perusahaan.
Di balik penurunan penjualan tersebut, SIDO masih mampu mempertahankan margin laba kotor (Gross Profit Margin) segmen herbal di kisaran 61,6% hingga 62%. Kondisi ini didorong oleh efisiensi biaya produksi seiring penurunan harga bahan baku utama seperti jahe dan minyak nilam.
Proyeksi kinerja emiten produsen Tolak Angin ini diprediksi akan membaik secara bertahap memasuki kuartal III-2026. Pemulihan saluran distribusi diharapkan menjadi motor penggerak pertumbuhan yang lebih stabil bagi perusahaan.
Para analis memperkirakan kinerja pada kuartal ketiga akan menunjukkan tren yang lebih baik dibandingkan kuartal pertama. Proyeksi ini didasarkan pada asumsi berakhirnya proses normalisasi persediaan di tingkat distributor.
Terkait rekomendasi investasi, pihak Kiwoom Sekuritas Indonesia mempertahankan posisi HOLD dengan target harga Rp 420 per lembar saham. Pandangan ini diambil mengingat minimnya katalis positif yang kuat dalam jangka pendek.
Sementara itu, analis dari Mirae Asset Sekuritas menyarankan investor untuk mengambil sikap wait and see terhadap saham SIDO. Strategi ini dianggap paling tepat sembari memantau perkembangan pemulihan daya beli masyarakat sepanjang sisa tahun 2026.






