Bursa Saham

Bursa Asia Menguat Seiring Penurunan Harga Minyak Pagi Ini

25
×

Bursa Asia Menguat Seiring Penurunan Harga Minyak Pagi Ini

Sebarkan artikel ini
Layar monitor menampilkan grafik pergerakan indeks saham pasar Asia yang menunjukkan tren kenaikan
Pasar saham Asia mencatatkan penguatan di tengah penurunan harga minyak dunia pada Senin (27/7/2026).

JAKARTA – Pasar saham Asia mencatatkan penguatan pada perdagangan hari ini, Senin (27/7/2026). Reli ini dipicu oleh anjloknya harga minyak mentah dunia akibat meredanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.

Penurunan harga komoditas energi tersebut berhasil meredam kekhawatiran pasar terhadap ancaman inflasi global. Sentimen ini sekaligus mendorong kenaikan harga obligasi di tengah antisipasi investor terhadap agenda rapat bank sentral pekan ini.

Ketegangan di Timur Tengah sedikit melandai setelah Iran menyatakan kesiapan untuk menghentikan serangan militer, asalkan Amerika Serikat melakukan langkah serupa. Keputusan tersebut disinyalir dipengaruhi oleh kekhawatiran militer AS terkait menipisnya cadangan amunisi strategis.

Namun, stabilitas kawasan masih menghadapi tantangan serius. Kelompok Houthi di Yaman dilaporkan tetap melancarkan serangan terhadap fasilitas minyak Arab Saudi di pesisir Laut Merah yang mengancam jalur pelayaran vital dunia.

Kepala Ekonom NAB Group, Sally Auld, menilai perkembangan di Timur Tengah bergerak ke arah yang lebih positif. Ia menyebut harga minyak di atas level US$ 100 per barel cenderung memaksa kedua pihak untuk mencari jalan keluar diplomatik.

Dampaknya, harga minyak Brent terkoreksi 5,2% menjadi US$ 91,73 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 5,4% ke posisi US$ 84,45 per barel.

Penurunan harga minyak ini secara langsung mengurangi ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga agresif oleh Federal Reserve. Bank sentral AS dijadwalkan akan menggelar rapat kebijakan pada Rabu (29/7) mendatang.

Meskipun terdapat perbedaan pandangan di internal The Fed, mayoritas pengambil kebijakan diperkirakan tidak akan mendorong pengetatan lebih lanjut. Hal ini merujuk pada data inflasi Juni yang menunjukkan tren perlambatan.

Di sisi lain, investor kini mengalihkan fokus pada laporan kinerja keuangan emiten teknologi besar. Raksasa seperti Microsoft, Meta Platforms, Amazon, Apple, dan Qualcomm dijadwalkan merilis laporan keuangan pekan ini.

Pasar juga mencermati besarnya belanja modal untuk pengembangan kecerdasan buatan (AI). Isu mengenai biaya investasi yang membengkak menjadi perhatian utama setelah muncul kabar dukungan pendanaan Nvidia bagi OpenAI.

Sentimen positif dari pasar global turut menularkan optimisme di Asia. Indeks Nikkei Jepang naik 0,4% dan indeks saham Korea Selatan menguat 0,6%.

Sementara itu, di pasar domestik, harga emas Antam Logam Mulia terpantau naik Rp 10.000 menjadi Rp 2.622.000 per gram. Kenaikan ini sejalan dengan meningkatnya daya tarik emas di pasar global akibat penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS.

Investor kini menantikan sejumlah data ekonomi penting, termasuk pertumbuhan PDB kuartal II di AS dan kawasan Eropa. Data inflasi dan tingkat pengangguran juga menjadi indikator krusial yang akan memengaruhi arah kebijakan bank sentral dalam waktu dekat.