JAKARTA – PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU), emiten yang terafiliasi dengan pengusaha Happy Hapsoro, secara resmi mengumumkan rencana penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (PMTHMETD) atau private placement. Aksi korporasi ini menargetkan penerbitan 271,5 juta saham baru guna memperkuat struktur permodalan perusahaan.
Manajemen RATU menyatakan bahwa langkah strategis ini diambil untuk mendukung ekspansi bisnis perseroan ke depan. Berdasarkan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis (30/7), perusahaan berencana menerbitkan sebanyak-banyaknya 271.505.380 lembar saham.
Jumlah saham baru tersebut setara dengan maksimal 10% dari total saham yang telah ditempatkan dan disetor penuh oleh perseroan. Kepastian mengenai pelaksanaan aksi korporasi ini masih menunggu persetujuan pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang dijadwalkan pada 8 September 2026.
Dana yang diperoleh dari private placement ini nantinya akan dimanfaatkan sebagai modal kerja operasional grup. Alokasi dana mencakup pembayaran biaya karyawan, jasa profesional, kewajiban perpajakan, hingga beban keuangan perusahaan.
Selain modal kerja, perseroan juga berencana menggunakan dana tersebut untuk pengembangan kegiatan usaha melalui belanja modal atau capital expenditure. Opsi pengembangan lainnya meliputi akuisisi saham, pembelian aset, penyertaan modal, serta pemberian pinjaman yang dianggap menunjang bisnis inti RATU.
Terkait harga pelaksanaan, perseroan akan merujuk pada regulasi BEI Nomor I-A. Harga saham baru ditetapkan minimal 90% dari rata-rata harga penutupan saham RATU selama 25 hari bursa berturut-turut sebelum permohonan pencatatan diajukan.
Aksi korporasi ini diproyeksikan akan menyebabkan dilusi pada kepemilikan pemegang saham eksisting sebesar maksimal 9,09%. Setelah private placement efektif, struktur permodalan perseroan akan mengalami penyesuaian dari jumlah saham beredar saat ini.
Saat ini, PT Rukun Raharja Tbk tercatat sebagai pemegang saham pengendali dengan porsi 68,68%. Setelah aksi korporasi rampung, kepemilikan PT Rukun Raharja Tbk diproyeksikan terdilusi menjadi 62,43%.
Sementara itu, porsi kepemilikan masyarakat juga akan mengalami penyesuaian dari 31,32% menjadi 28,47%. Investor baru yang masuk melalui jalur private placement akan memegang porsi saham sebesar 9,09% dari total modal ditempatkan dan disetor penuh.
Rencana aksi korporasi ini muncul di tengah dinamika sektor industri yang menantang di Indonesia. Sebagai perbandingan, sektor otomotif nasional melalui PT Astra International Tbk (ASII) baru saja mencatatkan penurunan laba bersih sebesar 19% pada semester pertama 2026, dengan total perolehan Rp 12,53 triliun.
Kondisi ekonomi makro dan fluktuasi pasar menjadi perhatian utama berbagai emiten dalam mengambil kebijakan pendanaan. RATU sendiri menargetkan periode pelaksanaan private placement selama dua tahun setelah mendapatkan restu dari para pemegang saham melalui RUPSLB.






