Jakarta – Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) massal mengintai Amerika Serikat. Kecerdasan buatan (AI) diprediksi akan menghilangkan 100 juta pekerjaan dalam satu dekade mendatang.
Senator AS, Bernie Sanders, mengungkapkan kekhawatiran mendalam terkait ancaman AI terhadap masa depan lapangan kerja di negaranya. Ia menyoroti potensi AI dan otomatisasi yang dapat merenggut pekerjaan puluhan juta warga AS.
“Teknologi AI dan otomatisasi menimbulkan ancaman bagi hampir 100 juta pekerja di AS selama dekade berikutnya,” kata Sanders, seperti dikutip dari Russia today, Jumat (10/10/2025).Dampak signifikan dari otomatisasi ini diperkirakan akan dirasakan oleh berbagai profesi. Perawat, pengemudi truk, akuntan, asisten pengajar, dan pekerja makanan cepat saji termasuk dalam daftar pekerjaan yang paling rentan tergantikan.
Sanders, anggota senior Komite Senat bidang Kesehatan, pendidikan, Tenaga Kerja dan Pensiun, membandingkan revolusi AI dengan revolusi pertanian dan industri. Ia menekankan bahwa perubahan ekonomi akibat AI dapat terjadi dalam waktu kurang dari satu dekade.
peringatan Sanders ini kontras dengan sikap pemerintahan Donald Trump sebelumnya. Kala itu,Trump mendorong kepemimpinan AS dalam pengembangan AI,dengan alasan kekalahan dalam perlombaan teknologi dengan china akan menjadi ancaman keamanan nasional.
sanders juga mempertanyakan motif di balik investasi besar-besaran dalam AI oleh tokoh-tokoh seperti Elon Musk, Larry Ellison, mark Zuckerberg, dan Jeff Bezos.”AI dan robotika yang dikembangkan oleh para miliarder ini akan memungkinkan perusahaan-perusahaan AS untuk menghilangkan puluhan juta lapangan kerja dengan upah layak dan memangkas biaya tenaga kerja, tetapi meningkatkan keuntungan sebesar-besarnya,” tegas Sanders.
ia memperingatkan bahwa pekerja di bidang manufaktur, angkutan truk, dan layanan taksi akan sangat terdampak oleh kemajuan pesat proyek kendaraan self-driving.
Sanders skeptis bahwa tujuan investasi AI adalah untuk mengangkat masyarakat yang hidup dari gaji ke gaji.Ia meyakini bahwa pendorong sebenarnya adalah peningkatan kekayaan dan kekuasaan para investor. “Ini sudah terjadi di Amazon dan Walmart,” pungkasnya.






