Jakarta – Perkembangan kecerdasan buatan (AI) kembali memicu kekhawatiran di pasar tenaga kerja global.Sebuah studi terbaru dari perusahaan AI, Anthropic, mengungkap potensi AI menggantikan pekerjaan manusia, terutama di sektor perkantoran.
Laporan berjudul “Labor market impacts of AI: A new measure and early evidence” menyebutkan bahwa pemanfaatan AI di dunia kerja saat ini masih jauh dari potensi sebenarnya.
Peneliti Maxim Massenkoff dan Peter McCrory menyatakan adopsi AI baru mencakup sebagian kecil dari kemampuan teknis yang dimilikinya.
Perkembangan AI dinilai berpotensi menciptakan disrupsi yang lebih luas. Secara teoritis,AI mampu menangani tugas di berbagai sektor,termasuk bisnis,keuangan,manajemen,ilmu komputer,matematika,hukum,dan administrasi perkantoran.
Namun,pemanfaatannya masih terbatas karena regulasi,keterbatasan teknologi,kebutuhan perangkat tambahan,dan perlunya verifikasi manusia.
Meski begitu, hambatan ini diperkirakan sementara. Seiring perkembangan teknologi, kesenjangan antara kemampuan dan penggunaan AI akan semakin menyempit.
Studi ini memperkenalkan metrik baru, “observed exposure,” yang membandingkan kemampuan teoritis AI dengan penggunaan nyata di lingkungan kerja.
“Hasilnya menunjukkan bahwa AI saat ini baru menyentuh sebagian kecil dari potensi yang dimilikinya,” tulis studi tersebut, seperti dikutip dari Fortune.
Menariknya, profesional berpendidikan tinggi dan berpenghasilan besar justru paling berisiko terdampak AI. Kelompok ini cenderung didominasi perempuan dengan gelar pendidikan lanjutan.
Profesi seperti pengacara, analis keuangan, dan pengembang perangkat lunak termasuk yang paling terekspos AI. Pekerjaan seperti programmer, layanan pelanggan, dan penginput data juga berada dalam kategori berisiko tinggi.







