Bursa Saham

BEI Pertimbangkan Revisi Target IPO 2026 di Tengah Kondisi Pasar

44
×

BEI Pertimbangkan Revisi Target IPO 2026 di Tengah Kondisi Pasar

Sebarkan artikel ini

JAKARTA – Aktivitas penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatatkan perlambatan signifikan sepanjang semester I hingga awal Juli 2026. Tercatat hanya tujuh perusahaan yang resmi mencatatkan sahamnya di bursa dengan total dana yang dihimpun mencapai Rp 1,67 triliun hingga 9 Juli 2026.

Capaian tersebut menunjukkan penurunan tajam dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu. Sepanjang Januari hingga Juli 2025, BEI berhasil mencatatkan 18 emiten baru di pasar modal domestik.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Saidu Solihin, menegaskan bahwa keberhasilan pasar modal tidak semata-mata diukur dari kuantitas perusahaan yang melantai atau besaran dana yang terkumpul. Fokus utama bursa saat ini tetap mengedepankan kualitas emiten yang masuk ke pasar modal.

Kualitas tersebut mencakup aspek fundamental perusahaan, penerapan tata kelola yang baik atau good corporate governance, hingga kesiapan operasional sebagai perusahaan terbuka. Bursa memprioritaskan kesiapan perusahaan dalam menjaga keberlanjutan bisnis setelah resmi melantai di bursa.

Memasuki semester II 2026, jumlah realisasi IPO masih tertinggal jauh dari target tahunan yang ditetapkan sebanyak 50 perusahaan. Kendati demikian, BEI mengklaim minat perusahaan untuk melakukan penawaran umum tetap terjaga.

Saat ini, terdapat enam perusahaan yang berada dalam antrean atau pipeline IPO dengan karakteristik aset besar. Sektor kesehatan mendominasi daftar antrean tersebut, disusul oleh sektor consumer cyclicals, consumer non-cyclicals, dan basic materials.

Terkait target 50 perusahaan, bursa membuka peluang untuk melakukan revisi seiring dengan dinamika pasar. Namun, Saidu menyatakan hingga saat ini belum ada keputusan final mengenai perubahan target tersebut.

Pihaknya tetap optimistis target dapat tercapai jika kondisi pasar domestik dan sentimen global membaik pada paruh kedua tahun ini. Faktor stabilitas geopolitik dan kepercayaan investor menjadi variabel utama dalam menentukan keberhasilan pencapaian target tersebut.

Guna menjaga kualitas calon emiten, BEI terus memperkuat program edukasi dan pendampingan intensif. Berbagai inisiatif seperti workshop, coaching clinic, dan masterclass dilakukan secara rutin bekerja sama dengan asosiasi serta mitra strategis.

Bursa juga memastikan penyesuaian regulasi dilakukan secara bertahap agar tidak membebani calon emiten. Kebijakan mengenai peningkatan porsi saham publik (free float) dan transparansi kepemilikan atau ultimate beneficial owner (UBO) diterapkan dengan masa transisi yang terukur.

Di sisi lain, minat perusahaan dalam mencari pendanaan melalui pasar modal sebenarnya masih tinggi, namun lebih condong ke instrumen surat utang. Hingga 9 Juli 2026, tercatat 71 penerbitan efek bersifat utang dan sukuk (EBUS) dari 43 perusahaan.

Total nilai pendanaan dari instrumen EBUS tersebut mencapai Rp 76,1 triliun, jauh melampaui nilai penghimpunan dana dari IPO saham. Jika enam perusahaan yang berada dalam antrean IPO terealisasi, total dana tambahan yang dihimpun diproyeksikan mencapai Rp 2,47 triliun.

BEI berkomitmen menjaga keseimbangan antara penguatan integritas pasar dan daya tarik pendanaan bagi perusahaan. Bursa akan terus memperbarui regulasi agar tetap relevan dengan kebutuhan pelaku usaha sekaligus memastikan perlindungan bagi investor tetap terjaga secara optimal.