Jakarta – Tren pasangan muda yang memilih untuk tidak memiliki anak atau menunda momongan semakin meningkat. Fenomena ini dikenal dengan istilah DINK (Dual Income No Kids), yaitu pasangan dengan dua penghasilan tanpa anak.
Perubahan gaya hidup dan prioritas generasi muda menjadi salah satu faktor utama. Pernikahan tidak lagi selalu identik dengan memiliki anak, terutama di kalangan pasangan urban berpendidikan.
Tekanan ekonomi, biaya hidup yang terus meningkat, dan tuntutan karier juga menjadi pertimbangan. Banyak pasangan yang memilih jalan hidup berbeda dari norma tradisional.
Di Amerika Serikat, tren DINK menunjukkan peningkatan signifikan dalam satu dekade terakhir.
Menurut analisis Pew Research center, 12 persen pasangan menikah dengan usia 30-40 tahun tergolong DINK. Angka ini naik dari 8 persen pada tahun 2013.
Pew Research juga mencatat peningkatan tipis pada proporsi pasangan dengan dua penghasilan yang memiliki anak sejak 2013.
Sebaliknya, porsi pasangan dengan satu penghasilan dan memiliki anak justru turun drastis, dari 34 persen menjadi 27 persen.
Sementara itu, di China, fenomena DINK muncul bersamaan dengan krisis demografi. Populasi China terus menyusut selama tiga tahun berturut-turut, meski pemerintah telah menghapus kebijakan satu anak.
PBB memprediksi populasi China dapat turun drastis dari sekitar 1,4 miliar saat ini menjadi 633 juta pada tahun 2100.
pada tahun 2024, jumlah kelahiran di China hanya mencapai 9,54 juta, sekitar setengah dari jumlah kelahiran pada tahun 2016.
Banyak anak muda China yang menyebut diri mereka sebagai DINK, memilih untuk tidak memiliki anak atau menundanya karena berbagai alasan.
Alasan tersebut mulai dari tingginya biaya membesarkan anak hingga pertimbangan karier. Istilah DINK bahkan sempat viral di media sosial China, Xiaohongshu.







