Tutup
Regulasi

IHSG Melesat 2,1 Persen Tembus Level 7.660 Hari Ini

164
×

IHSG Melesat 2,1 Persen Tembus Level 7.660 Hari Ini

Sebarkan artikel ini

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan penguatan signifikan pada sesi pertama perdagangan Selasa (14/4/2026), dengan melesat 2,19 persen atau 160,5 poin ke level 7.660. Tren positif ini melanjutkan momentum pembukaan pasar yang sebelumnya sudah menguat 1,31 persen ke posisi 7.598.

Data Bursa Efek Indonesia menunjukkan dominasi penguatan pada mayoritas indeks sektoral. Sektor infrastruktur (IDXINFRA) memimpin kenaikan dengan lonjakan sebesar 4,97 persen. Sebaliknya, hanya sektor teknologi (IDXTECHNO) dan sektor barang konsumsi non-primer (IDXCYCLIC) yang mencatatkan pelemahan.

Performa positif ini menjadi kelanjutan dari pemulihan pekan lalu (6–10 April 2026) di mana IHSG berhasil menguat 6,14 persen setelah sebelumnya sempat berada di bawah tekanan.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Hari Rachmansyah, menjelaskan bahwa kinerja pasar pekan lalu dipicu oleh meredanya tensi geopolitik global. Sentimen pasar sempat membaik berkat kesepakatan gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat dan Iran serta pembukaan kembali jalur strategis Selat Hormuz.

Namun, untuk perdagangan periode 13–17 April 2026, investor diminta lebih waspada terhadap berbagai sentimen global maupun domestik. Hari menyoroti kegagalan negosiasi terbaru antara Amerika Serikat dan Iran yang belum menghasilkan kesepakatan konkret.

“Kondisi ini memperpanjang ketidakpastian geopolitik global dan meningkatkan kekhawatiran investor terhadap potensi eskalasi konflik yang dapat berdampak langsung pada stabilitas pasar energi,” ujar Hari.

Ketegangan di Selat Hormuz menjadi titik krusial bagi rantai pasok minyak dunia. Jika gangguan distribusi energi berlanjut, pasar mengantisipasi pengetatan suplai yang berpotensi menahan laju penurunan inflasi global. Dampaknya, ruang bagi bank sentral untuk melonggarkan kebijakan moneter menjadi semakin sempit.

Selain itu, pasar juga menanti arah kebijakan Bank Sentral AS (The Fed) yang diprediksi tetap *hawkish*. Tingginya risiko inflasi energi dan imbal hasil (*yield*) obligasi AS diperkirakan menjadi beban tambahan bagi aset berisiko, terutama saham-saham sektor *growth*.

Dinamika ini mendorong investor global kembali mengadopsi sikap *risk-off* dalam jangka pendek. Akibatnya, terjadi rotasi modal ke aset *safe haven* seperti dolar AS dan komoditas energi. Volatilitas pasar diprediksi tetap tinggi sepanjang pekan ini, bergantung pada perkembangan geopolitik dan sinyal kebijakan moneter global.

Dari sisi domestik, pasar akan dipengaruhi oleh dua katalis utama, yakni potensi penyesuaian harga BBM non-subsidi serta upaya stabilisasi nilai tukar Rupiah yang kini masih tertekan di kisaran Rp17.000 per dolar AS.

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menutup perdagangan di zona merah pada hari terakhir bulan Mei 2026. Pada Jumat (29/5/2026), IHSG turun tipis 0,05% ke level 6.127,38. Sepanjang tahun berjalan (year to date/ytd), indeks acuan Bursa Efek Indonesia ini telah anjlok 29,14%. Tekanan pasar kali ini terutama dipicu oleh efektifnya rebalancing indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang berlaku pada…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Investor ritel perlu lebih selektif menentukan strategi investasi emas. Pasalnya, saat harga emas mulai rebound setelah sempat tertekan dalam sebulan terakhir, spread harga jual dan buyback emas batangan masih relatif lebar. Melansir Bloomberg, pada perdagangan Jumat (29/5/2026), Harga emas spot ditutup pada level US$ 4.540,26 per ons troi, naik 1% disbanding sehari sebelumnya. Namun, dalam sebulan terakhir harga emas…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Kinerja PT ITSEC Asia Tbk (CYBR) pada tahun buku 2025 dinilai menunjukkan pertumbuhan yang solid dan berkelanjutan. Perseroan mencatat lonjakan pendapatan sebesar 62,1% secara tahunan menjadi Rp 577 miliar, serta berhasil membalikkan kinerja menjadi laba bersih sekitar Rp65 miliar. Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Adrian Djie menilai, pertumbuhan tersebut bukan sekadar faktor sementara, melainkan ditopang oleh perbaikan…