JAKARTA – PT Indika Energy Tbk (INDY) membidik pemulihan kinerja keuangan yang lebih stabil pada 2026. Strategi ini dijalankan melalui kombinasi pemanfaatan harga batubara yang kondusif serta percepatan diversifikasi bisnis ke sektor non-batubara.
Langkah ini diambil setelah perusahaan mencatatkan penurunan pendapatan sebesar 17,14% secara tahunan (*year on year*) menjadi US$ 2,03 miliar pada 2025. Sementara itu, laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk juga terkoreksi 40,18% menjadi US$ 6,03 juta.
*Head of Corporate Communications* Indika Energy, Ricky Fernando, menyatakan bahwa perusahaan menargetkan produksi batubara mencapai 30,3 juta ton sepanjang tahun ini. Meski harga batubara masih volatil, manajemen optimistis prospek kinerja akan lebih stabil berkat efisiensi operasional dan optimalisasi biaya di seluruh lini bisnis.
“Kami terus fokus pada peningkatan kontribusi dari portofolio non-batubara,” ujar Ricky, Senin (13/4/2026).
Salah satu fokus utama diversifikasi INDY adalah Proyek Emas Awak Mas. Saat ini, proyek tersebut dalam tahap pengembangan lanjutan dan ditargetkan mulai berproduksi secara komersial pada awal 2027.
Di sektor energi masa depan, INDY aktif mengembangkan ekosistem kendaraan listrik secara terintegrasi. Portofolionya mencakup motor listrik merek ALVA, penyediaan kendaraan listrik komersial melalui Kalista, serta distribusi bus dan truk listrik untuk sektor pertambangan di bawah naungan INVI.
Untuk mendukung rencana ekspansi tersebut, INDY mengalokasikan belanja modal (*capital expenditure/capex*) sebesar US$ 380,4 juta pada 2026. Dana tersebut akan digunakan untuk pengembangan Proyek Awak Mas, penguatan bisnis kendaraan listrik Kalista, serta ekspansi bisnis logistik melalui Interport. Pendanaan *capex* ini bersumber dari kas internal dan fasilitas pinjaman perbankan.
Di sisi lain, Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, memprediksi pemulihan kinerja INDY akan berjalan bertahap. Menurutnya, performa perusahaan masih sangat bergantung pada stabilitas harga batubara, sementara segmen kendaraan listrik dan energi terbarukan saat ini masih bersifat *capital intensive*.
Wafi menilai Proyek Awak Mas akan menjadi penopang utama laba perusahaan dalam jangka panjang. Ia menyarankan agar INDY memperkuat efisiensi operasional pada anak usahanya, Kideco Jaya Agung, guna menjaga arus kas.
Selain itu, ia mengingatkan pentingnya mitigasi risiko terhadap kenaikan beban utang, potensi *cost overrun*, serta ketatnya persaingan di industri kendaraan listrik. Saat ini, Wafi merekomendasikan *hold* untuk saham INDY dengan target harga di level Rp 3.500 per lembar.







