Jakarta – Pamor jam tangan mekanis tetap bersinar dan tidak tergerus oleh dominasi perangkat digital pintar.
Keunggulan jam tangan tradisional ini terletak pada warisan sejarah abad ke-16 yang dipadukan dengan presisi teknis tinggi.
Sistem mekanis bekerja secara kompleks mengandalkan ratusan komponen mikro tanpa memerlukan bantuan sensor atau baterai.
Daya utama jam otomatis bersumber dari pergerakan alami tangan pengguna yang memutar rotor untuk menggerakkan pegas.
Stabilitas waktu tetap terjaga berkat mekanisme escapement dan roda keseimbangan yang telah disempurnakan selama berabad-abad.
Di sisi lain, smartwatch memang unggul dengan berbagai fitur kesehatan, namun ketergantungan pada daya baterai menjadi kelemahan mendasar.
Jam mekanis justru menawarkan usia pakai hingga puluhan tahun selama pemiliknya memberikan perawatan yang rutin.
Produsen jam kini melakukan modernisasi material, seperti penggunaan pegas berbahan Nivachron untuk meningkatkan ketahanan.
Inovasi tersebut terbukti efektif melindungi pergerakan mesin dari benturan fisik dan gangguan magnet di sekitar pemakainya.
Penerapan teknologi mutakhir ini hadir dalam koleksi Mido Ocean Star 200 yang baru saja dirilis untuk pasar Korea Selatan.
Perangkat penyelam tersebut mengandalkan mesin Caliber 80 yang mampu menjaga cadangan daya hingga 80 jam.
Franz Linder selaku Kepala Eksekutif Mido menyatakan bahwa konsumen saat ini tetap memprioritaskan karakter kuat dan nilai historis di tengah pesatnya perubahan tren.







