JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali bulan Mei dengan tantangan berat di tengah bayang-bayang idiom pasar *sell in May and go away*. Ketidakpastian ekonomi global dan sentimen negatif yang masih menyelimuti membuat pergerakan indeks domestik tertekan, meski sempat menorehkan rekor tertinggi beberapa waktu lalu.
Head of Research Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Wisnubroto, menyatakan bahwa idiom *sell in May* kembali menjadi perhatian serius pelaku pasar. Hal ini dipicu oleh kondisi global yang rapuh serta isu terkait *market accessibility* dalam peninjauan indeks MSCI yang hingga kini belum menemui titik terang.
Sepanjang tahun berjalan (*year to date*), kinerja IHSG tercatat sebagai salah satu yang terburuk di kawasan regional dengan koreksi mencapai 19,6%. Performa ini hanya sedikit lebih baik dibandingkan pasar saham Filipina yang mengalami tekanan lebih dalam.
Koreksi tajam ini merupakan pembalikan arah setelah reli panjang yang sempat membawa IHSG menyentuh rekor tertinggi di level 9.134 pada awal 2026. Kala itu, pasar didorong oleh optimisme spekulatif terkait masuknya Indonesia ke dalam indeks global MSCI. Kini, euforia tersebut telah mereda dan berganti menjadi aksi jual.
Selain isu MSCI, pergerakan indeks masih terbebani oleh arus modal asing yang terus keluar (*capital outflow*). Investor juga bersikap sangat sensitif terhadap penguatan dolar AS, arah kebijakan suku bunga global, serta ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang menjaga harga minyak tetap berada di level tinggi.
Kombinasi berbagai faktor tersebut membuat arah pergerakan IHSG saat ini cenderung sulit diprediksi dengan volatilitas yang diperkirakan masih akan tinggi dalam jangka pendek.
Meski tekanan pasar cukup dalam, terdapat peluang bagi IHSG untuk melakukan konsolidasi atau *rebound* secara teknikal. Dalam beberapa hari terakhir, indeks mulai menunjukkan tanda-tanda stabilisasi setelah penurunan tajam dari puncaknya.
Rully menambahkan bahwa optimisme pasar belum sepenuhnya pupus. IHSG dinilai masih memiliki potensi untuk kembali menembus level 9.000 hingga akhir tahun, dengan catatan sentimen global mulai mereda dan arus modal asing kembali masuk ke pasar saham dalam negeri.
***
*Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual instrumen investasi tertentu. Segala keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca. Penulis tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.*






