Tutup
EkonomiInvestasiPerbankan

Menkeu Purbaya: Harga Minyak Dunia Bergerak, Resesi Mengintai

340
×

Menkeu Purbaya: Harga Minyak Dunia Bergerak, Resesi Mengintai

Sebarkan artikel ini
hitung-hitungan-purbaya,-bertaruh-harga-minyak-tak-akan-us$200/barel
Hitung-hitungan Purbaya, Bertaruh Harga Minyak Tak Akan US$200/Barel

Jakarta – Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa optimistis harga minyak dunia tak akan sentuh level US$200 per barel.

Keyakinan ini disampaikan merespons proyeksi sejumlah ekonom global yang memperkirakan potensi kenaikan harga minyak.

Purbaya menyinggung prediksi serupa yang pernah muncul di tahun 2013.

“Saya tunjukin, 2013 kalau enggak salah mereka (ekonom) bilang juga sama, harga minyak akan naik US$200 per barel. Naik sampai US$150 habis itu jatuh,” ujarnya.

Menurutnya, harga minyak akan kembali turun karena ekonomi global tak akan mampu beradaptasi dengan harga yang terlalu tinggi.

Kondisi ini, lanjutnya, berpotensi memicu resesi dan menurunkan permintaan.

“Jadi kalau US$200 per barel saya bilang, ya paling mungkin sebentar, satu menit, dua menit, habis itu jatuh lagi. Ketika jatuh, ini akan jatuh ke bawah,” paparnya.

Purbaya menekankan pentingnya memahami siklus pergerakan harga minyak dunia. Ia mempertanyakan siapa yang akan membeli jika harga minyak terlalu tinggi.

“Enggak akan US$200 per barel (harga minyak).Tenang aja, kalau US$200 per barel, resesi global akan terjadi, kalau terjadi demand turun kan? Demand turun, collapse, harga minyak jatuh tajam sekali, bisa ke bawah US$15 per barel, kalau mereka enggak hati-hati,” tegasnya.

Lebih lanjut, Purbaya menyatakan pemerintah siap menyesuaikan anggaran jika harga minyak benar-benar menembus US$200 per barel.

Namun, ia meyakini skenario ini tak akan terjadi, berkaca pada pengalaman 2013-2014.

“Saya bertaruh sama orang di depan umum, mereka bilang US$200 per barel, saya bilang enggak, (harga minyak) US$ 150 per barel habis itu jatuh,” katanya.

Purbaya juga tak terlalu khawatir dengan harga minyak dunia yang saat ini sudah menembus US$100 per barel. Menurutnya, level tersebut sudah masuk dalam perhitungan pemerintah.

“Harga minyak 116 aja masih tenang-tenang aja kan?” ujarnya di Istana Negara,Kamis (19/3).

Ia mengungkapkan, defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) berpotensi menembus level 3 persen jika harga minyak rata-rata di kisaran US$100 per barel.

Namun, risiko ini bisa diatasi dengan upaya-upaya untuk menjaga defisit.

Pemerintah juga akan melakukan langkah-langkah seperti penghematan dan peningkatan pendapatan untuk menjaga APBN tetap aman.

“Dan kita juga ada windfall profit kan. Kita akan maksimalkan windfall profit juga. Jadi, seharusnya enggak ada masalah,” pungkasnya.